Kopi Uthek Khas Desa Banjar, Disajikan bersama Gula Aren

Mengenalkan potensi khas wisata di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, warga menggelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Minggu (26/08/2018). FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Secangkir kopi pahit tanpa gula. Di sebelahnya terdapat batang gula aren (gula merah). Kopi ini dinamakan Kopi Uthek, karena saat gula aren digigit akan berbunyi ‘thek’. Saat gula sudah di dalam mulut, kopi langsung diseruput. Kopi Uthek ini menjadi kuliner khas warga Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Mengenalkan kekhasannya itu, warga menggelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, di desa yang terletak di kaki Gunung Ijen itu, Minggu (26/08/2018). “Desa Banjar sangat potensial untuk menjadi destinasi wisata. Apalagi lokasinya yang dekat Gunung Ijen. Kuliner Sego Lemeng dan Kopi Uthek ini menjadi daya tariknya,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Bupati Anas mengatakan, pihaknya mendorong Desa Banjar menjadi desa wisata. Mengingat warga Desa Banjar yang terus berkreasi mengangkat potensinya, di samping kekayaan alam desa tersebut.

Pada festival ini, warga menyulap jalan desa menjadi ruang tamu yang dilengkapi puluhan meja dan kursi untuk menyambut pengunjung yang hadir. Kopi Uthek bersama jajanan tradisional menjadi sajian spesial yang disajikan di tiap meja.

Selain Kopi Uthek, warga juga menyajikan Sego Lemeng bagi para pengunjung. Sego Lemeng merupakan nasi yang digulung dengan daun pisang dan diisi dengan cacahan daging ayam dan ikan tuna atau ikan asin. Lalu gulungan nasi tersebut dimasukkan ke dalam bilah bambu dan dibakar.

Kopi Uthek, minuman kopi khas Desa Banjar tergolong unik karena disajikan bersama gula aren. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

Paduan aroma daun pisang dan bau asap dari pembakaran bambu yang terperangkap itu menghasilkan cita rasa Sego Lemeng yang khas, gurih dan sedap. “Dulu Sego Lemeng merupakan bekal para gerilyawan Desa Banjar saat melawan penjajah Belanda, karena lebih awet dan tidak cepat basi,” kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda.

Festival ini digelar selama dua hari, Sabtu (25/08/2018) dan Minggu (26/08/2018). Di festival ini, pengunjung bisa berwisata kuliner sambil menilmati hijaunya alam Desa Banjar. Event ini juga dimeriahkan Jazz Patrol dan penampilan seni budaya Korea dan Philipina yang dibawakan oleh mahasiswa dan guru program pertukaran budaya. (HENDRO SUCIPTO/AZT)

 Editor: Aziz Tri P