Berkah Asian Games, Batik Bermotif Rusa Bawean Laris Manis

Asian Games 2018 mendatangkan berkah bagi perajin batik tulis Desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme, Gresik. Pasalnya, permintaan batik tulis dengan motif rusa Bawean laris manis. FOTO: SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS: Bergulirnya pesta olahraga Asian Games 2018 mendatangkan berkah bagi perajin batik pitutur atau batik tulis asal Desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme, Gresik. Pasalnya, adanya pesta olahraga negara se-Asia itu membuat permintaan batik dengan motif rusa asal Bawean itu mengalami peningkatan.

Seperti diketahui, di perhelatan Asian Games 2018 ini diperkenalkan tiga maskot yang terpilih setelah dilombakan. Salah satunya adalah Atung, seekor rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) yang mengenakan sarung dengan motif tumpal.

Rusa bawean sendiri adalah hewan yang banyak di jumpai di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Atung menjadi maskot yang merepresentasikan kecepatan, karena rusa sendiri dikenal akan kecepatan berlarinya.

Dua maskot lainnya adalah Bhin-Bhin, yang diadaptasi dari seekor burung asal Papua, Cendrawasih (Paradisaea Apoda) dan Kaka, maskot Asian Games yang terinspirasi dari badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang dikenal hanya bisa ditemukan di Ujung Kulon, Indonesia.

Kini batik dengan gambar rusa Bawean yang dipakai sebagai salah satu maskot Asian Games 2018 tersebut laris manis, dan diburu banyak pembeli. Salah satu perajin batik, Muhammad Ilham (62), asal Desa Cerme Lor menceritakan, batik dengan motif rusa Bawean yang menjadi produk andalannya.

Batik dengan motif tersebut banyak diminati dan diburu warga untuk dibuat seragam dinas maupun busana resepsi pernikahan. “Saya tidak menyangka jika batik dengan motif rusa Bawean ini mendadak diborong warga Gresik maupun dari kota lain,” kata Muhammad Ilham kepada Sureplus.id, Minggu (26/08/2018).

Menurut Ilham, yang menggeluti batik lebih dari 20 tahun menjelaskan batik rusa Bawean ini berisi pesan moral keberadaan satwa asli Gresik yang terancam punah populasinya. Sehingga, perlu upaya serius untuk dilestarian supaya tidak hilang.

“Tingginya permintaan batik rusa Bawean ini membuat roda usahanya semakin bergairah. Bahkan, sejumlah pelajar dan ibu rumah tangga turut bergabung menekuni usaha batik,” ungkapnya.

Sejumlah penggemar batik menyebutkan menggemari batik Pamiluto yang merupakan batik asli Gresik ini. Di dalam goresan batik tersebut berisi beragam kekayaan alam Gresik, dan menjadi simbol identitas pemakainya. “Batik dengan corak rusa Bawean ini harganya terjangkau. Mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per potongnya,” tandas Diana. (ALI ZAINI/AZT)

Editor: Aziz Tri P