Banyuwangi Student Jazz Festival

Pelajar Surabaya hingga Bali Adu Kreativitas Bermusik Jazz

Banyuwangi Student Jazz Festival
Banyuwangi Student Jazz Festival kembali digelar di Gesibu, Banyuwangi, Sabtu (25/08/2018). Diikuti 30 grup band pelajar SMA. Selain dari Banyuwangi, juga ada dari Surabaya, Malang, Jember dan Bali. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Banyuwangi Student Jazz Festival kembali digelar, di Gesibu Banyuwangi, Sabtu (25/08/2018). Pelajar dari berbagai kota tampak antusias beradu kreativitas bermusik mereka. Student Jazz Festival ini diikuti 30 grup band pelajar tingkat SMA. Selain dari Banyuwangi, juga ada dari Surabaya, Malang, Jember dan Bali.

Meski berstatus pelajar SMA, mereka ternyata mampu menunjukkan musikalitas yang apik. Berbagai judul lagu populer maupun lagu daerah dimainkan dalam balutan aransemen jazz.

Bahkan lagu Banyuwangi seperti Rehana, Kangen Tombone Ati, terdengar lebih segar dan asyik saat dibawakan dalam nuansa jazz.

Improvisasi yang menjadi salah satu ciri khas musik jazz, juga tidak kalah ditampilkan sebagaimana layaknya musisi profesional. Seperti grup band SMAN 1 Genteng yang berhasil membawakan lagu Cemeng, dengan memadukan irama jazz dengan instrumen etnik.

Begitu juga dengan grup band SMAN 5 Surabaya yang membawakan lagu Tanjung Perak dengan balutan irama jazz yang menarik. Penampilan mereka ini mampu memukau ratusan penonton yang hadir.

“Jazz itu musik yang membebaskan kita berkreasi. Lagu apa pun bisa kita aransemen dalam musik jazz. Seperti lagu Banyuwangi, Cemeng yang kita padukan dengan panjak,” kata Sodo Lanang, keyboardis band SMAN 1 Genteng.

Sodo mengaku melakukan kolaborasi aransemen jazz dengan musik etnik Using, karena ingin menunjukkan ke khalayak bahwa Banyuwangi juga punya kekayaan musik. Sodo sendiri sudah berpengalaman mengikuti beberapa kompetisi musik jazz tingkat regional dan nasional.

Ditambahkan ia, ajang ini memberi kesempatan baginya menebarkan virus musik jazz kepada teman-temannya di sekolah.

“Teman-teman yang punya bakat musik banyak, tapi masih sedikit yang menekuni jazz. Lewat ajang ini, saya bisa mengenalkan kepada teman-teman dan mereka ternyata suka,” kata Sodo yang sudah menekuni piano klasik sejak kelas dua SD ini.

Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko mengatakan, kompetisi jazz untuk generasi muda ini diharapkan bisa menjadikan para pelajar sebagai generasi penerus musik jazz, khususnya di Banyuwangi. “Kita ingin menjaring bakat-bakat muda jazz, seiring dengan rutinnya digelar event jazz pantai dan jazz Ijen di Banyuwangi setiap tahun,” ujar Wabup Yusuf.

Menurut Yusuf, ajang ini tak sekedar kompetisi. Sebab yang keluar menjadi terbaik, akan berkesempatan tampil di sejumlah event musik di Banyuwangi. Hal ini tentunya menjadi kebanggaan bagi para musisi muda jazz, karena bisa satu panggung dengan musisi lokal dan nasional.

Yusuf pun berharap, para musisi muda bisa banyak belajar, baik dari segi musik, profesionalitas dan dedikasi terhadap dunia musik. “Kalau mau fokus di musik, inilah ajangnya. Banyuwangi memberi panggung luas bagi mereka yang berkreasi, karena banyak event yang kami rancang sebenarnya untuk menyediakan panggung bagi para seniman dan musikus muda,” katanya.

Sukirin, guru pembimbing dari SMAN 5 Surabaya mengaku jika Student Jazz ini sudah menjadi agenda sekolahnya untuk diikuti. Untuk keperluan tersebut, bahkan pihaknya setiap tahun melakukan regenerasi bagi grup band di SMAN 5 Surabaya.

“Student Jazz Banyuwangi sudah menjadi event wajib tahunan yang diikuti sekolah kami. Bagi kami, ini ajang untuk unjuk gigi bagi siswa sekaligus menguji kualitas musikalitas mereka,” kata Sukirin. (HENDRO SUCIPTO/AZT)

Editor: Aziz Tri P