Revitalisasi Pasar Tradisional Bojonegoro Libatkan Budayawan

Revitalisasi Pasar Tradisional Bojonegoro
Revitalisasi pasar tradisional di Bojonegoro diharap tak merubah jati diri pasar itu sendiri. FOTO : SUREPLUS/HENDRO D. LAKSONO

BOJONEGORO-SUREPLUS : Revitalisasi Pasar Tradisional Bojonegoro diharap tidak sampai merubah karakter dasar dari pasar itu sendiri. Baik dari sisi bangunan, hingga pengelolaannya. Apalagi jika keberadaan pasar tak lepas dari budaya asli daerah.

Pernyataan ini disampaikan budayawan asal Kecamatan Margomulyo, Adi Sutarto, seperti ditulis di laman bojonegorokab.go.id, Selasa (21/8/2018). Dijelaskan Adi, dari segi bangunan, pasar harus menampakkan sisi tradisionalnya.

“Pasar tradisional yang sekarang jangan sampai dilakukan perubahan secara menyeluruh dan menghilangkan nilai-nilai tradisi yang sudah ada. Jadi yang direvitalisasi yang perlu-perlu saja. Jangan semuanya,” jelas Adi.

Pasar tradisional, lanjutnya, juga menjadi pasar budaya. Ketika masyarakat masuk dalam pasar, ia akan melihat aktifitas dalam konteks tradisi yang berbudaya.

“Sehingga, pasar tradisional bisa menjadi destinasi wisata. Misalnya, pedagang jenang. Itu jangan dibuatkan kios. Tapi perbaiki saja tempatnya, tanpa membuang mejanya yang terbuat dari bambu. Lalu, duduknya pakai dingklik dan menjaga kesehatan pedagang itu sendiri,” jelasnya.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memang sedang berniat untuk menata pasar-pasar tradisional di Bojonegoro. Untuk menjaga sisi estetika dan kesejarahan, pemkab merangkul seniman, budayawan, dan elemen masyarakat yang lain. Targetnya, revitalisasi pasar tradisional akan selaras dengan program wisata terpadu yang dikembangkan pemkab.

Data di Dinas Perdagangan Bojonegoro, saat ini jumlah pasar mencapai 90 unit yang terbagai menjadi pasar daerah sebanyak 12 unit, dan pasar desa 78 unit. Dari jumlah ini, beberapa pasar sudah direvitalisasi dengan memperhatikan banyak aspek. Diantaranya Padangan, Malo, Kalitidu, Dander, Banjarjo, Sugihwaras, dan Pasar Kedungadem. Untuk merevitalisasi setiap pasar, anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp 2,5 miliar hingga Rp 7 miliar. (PRS/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono