Pencak Sumping dan Cerita Kampung Mondoluko

Pertunjukan Pencak Sumping di dusun Mondoluko. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Di Desa Tamansari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terdapat sebuah dusun bernama Mondoluko. Di dusun ini terkenal dengan tradisi warganya yang memiliki kemampuan pencak silat. Kini tradisi itu dilestarikan dengan Pencak Sumping.

Tiap bulan 10 Dzulhijah dalan penanggalan islam, di kampung ini menggelar selamatan kampung. Mulai tahun ini, digelar selama dua hari, 10 dan 11 Dzulhijah (22 dan 23 Agustus), untuk memperkenalkan tradisi Pencak Sumping pada masyarakat.

Warga menggelar selamatan dengan membaca lontar Yusuf, dengan beragam menu jajanan tradisional, serta ditampilkan kesenian Pencak Sumping.

Pencak Sumping dan Mondoluko saling berkaitan. Menurut Rahayis selaku Ketua Adat Mondoluko, Pencak Sumping ini berawal saat leluhur dusun ini, Buyut Idoh, berani melawan Belanda.

“Oleh Belanda, Buyut Idoh diadu domba dengan seseorang dari luar desa,” kata pria yang akrab disapa Rayis itu.

Ternyata Buyut Idoh ditemukan tewas dengan banyak luka, bahkan organ perutnya terburai keluar. Sejak saat itu, dusun ini dinamakan Mondoluko, yang berarti Mondol (terburai) Luko (luka-luka).

Keturunan Buyut Idoh lalu memutuskan agar warganya belajar pencak silat, untuk mempertahankan diri. Sejak saat itu, warga dusun ini banyak yang berlatih pencak silat.

“Tiap latihan pencak silat, kaum perempuan menyediakan makanan sumping. Karena di dusun ini banyak terdapat pisang,” kata Rayis. Sumping adalah jajanan tradisional yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan nogo sari. Karena itulah, menurut Rayis, kesenian pencak silat di dusun ini dikenal sebagai Pencak Sumping.

Tidak ada literasi resmi sejak kapan pencak sumping ini berasal.  “Tidak ada yang tahu kapan pencak sumping itu berawal,” katanya.

Pencak Sumping itu terus diwariskan pada anak cucu Buyut Idoh hingga saat ini. Menurut Husaini, salah satu guru pencak silat, dirinya merupakan generasi keenam dari guru pencak pertama di Mondoluko.

Husaini mengatakan, Pencak Sumping lebih pada seni bukan pada tarung. “Pencak Sumping tidak boleh menyakiti. Dilakukan secara berpasangan atau perseorangan. Gerakannya harus seirama,” kata Husaini.

Menurut Husaini pencak silat bukanlah ajang menyakiti, namun untuk bela diri.‎(HENDRO SUCIPTO/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas