Kemendag Persiapkan Langkah Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan

Kemendag mempersiapkan berbagai langkah untuk menyikapi defisit neraca perdagangan. Tampak ilustrasi Mendag Enggartiasto Lukita di salah satu acara. FOTO: @KEMENDAG

JAKARTA-SUREPLUS: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempersiapkan berbagai langkah untuk menyikapi defisit neraca perdagangan. Langkah-langkah tersebut akan ditempuh dengan menggalakkan ekspor ke negara-negara nontradisional dan mengurangi hambatan akses pasar di negara-negara tujuan ekspor.

Di bidang impor, Kemendag tengah melakukan langkah-langkah pengendalian impor barang konsumsi. Kemendag juga bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk membahas rencana pengenaan pajak penghasilan (PPh) terhadap barang impor yang sudah ada substitusinya di dalam negeri.

Tingginya permintaan impor yang naik lebih besar daripada kenaikan ekspor, mengakibatkan neraca perdagangan bulan Juli 2018 mengalami defisit sebesar 2,03 miliar dolar AS. Defisit tersebut bersumber dari defisit perdagangan migas sebesar 1,19 miliar dolar AS dan defisit perdagangan nonmigas sebesar 842,2 juta dolar AS.

“Tingginya defisit perdagangan bulan Juli 2018 membuat defisit neraca perdagangan selama Januari–Juli 2018 mencapai 3,09 miliar dolar AS,” kata Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag) di kemendag.go.id, Kamis (23/08/2018).

Seperti diketahui, peningkatan impor bulan Juli 2018 merupakan respons terhadap kebutuhan industri nasional untuk pemenuhan ekspor dan kebutuhan di dalam negeri. Total impor Juli 2018 mencapai 18,27 miliar dolarAS.

Mendag mengungkapkan, secara kumulatif total impor Januari–Juli 2018 mencapai 107,32 miliar dolar AS, atau naik 24,5 persen dari Januari–Juli 2017 yang sebesar 86,22 miliar dolar AS. Peningkatan nilai impor tersebut didorong oleh kenaikan impor seluruh klasifikasi barang. Barang modal naik 30,4 persen, bahan baku atau bahan enolong naik 23,0 persen serta barang konsumsi naik 27,0 persen.

Peningkatan impor bahan baku atau bahan penolong ini merupakan respons terhadap kebutuhan industri nasional untuk memenuhi permintaan pasar ekspor dan untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang meningkat.

Di antaranya untuk kebutuhan selama pelaksanaan ajang internasional yang dilaksanakan di Indonesia. Bahan baku atau bahan penolong yang mengalami kenaikan signifikan adalah bahan bakar dan pelumas; bahan baku untuk industri primer maupun proses; suku cadang dan perlengkapan barang modal; serta perlengkapan alat angkut.

Sedangkan barang konsumsi yang impornya meningkat signifikan antara lain adalah alat angkutan bukan untuk industri; dan barang konsumsi tidak tahan lama seperti pendingin ruangan serta makanan dan minuman olahan untuk rumah tangga. Sedangkan untuk barang modal, yang impornya naik adalah alat angkutan untuk industri dan barang modal bukan berupa alat angkutan. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P