Di AS, Old Blue Co Usung Celana Jeans Berbahan Raw Denim

Old Blue Co
Di pameran Liberty Fashion and Lifestyle Fairs di Las Vegas, AS, Old Blue Co menampilkan celana jeans berbahan raw denim, dengan ciri khas yang berat dan tidak banyak diproses. FOTO: INSTAGRAM

JAKARTA-SUREPLUS: Di pameran ‘Liberty Fashion and Lifestyle Fairs’ di Las Vegas, AS, Old Blue Co menampilkan celana jeans berbahan raw denim, dengan ciri khas yang berat dan tidak banyak diproses. Tema desain utamanya berasal dari budaya denim yang digunakan penambang zaman dulu.

Old Blue Co merupakan satu dari dua merk fashion lokal Indonesia, yang diusung ITPC LA (Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles) di pameran ‘Liberty Fashion and Lifestyle Fairs’ di Las Vegas, AS. Satu merk lokal Indonesia lainnya adalah Unionwell. Pameran digelar 13-15 Agustus lalu di Las Vegas.

Dikutip dari Berita Perdagangan di kemendag.go.id, Kamis (23/08/2018), selama pameran, Old Blue Co juga mendapatkan respons yang positif dan bahkan beberapa buyer skala grosir sudah mulai melakukan trial order.

“Banyak buyer potensial atau pengamat produk denim yang tidak menyangka bahwa celana jeans ini buatan Indonesia. Hal ini karena pada umumnya penjual produk celana jeans berbahan raw denim dan berkualitas tinggi berasal dari AS, Jepang dan Eropa. Namun, produk-produk Old Blue Co berhasil membuktikan bahwa produk Indonesia bisa sejajar dengan produk-produk berkelas dunia lainnya,” kata pendiri Old Blue Co, Ahmad Hadiwijaya.

Ahmad juga menyampaikan bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh dengan mengikuti pameran di Las Vegas ini. “Pameran ini sangat bermanfaat karena kami menemukan cukup banyak buyer yang relevan sesuai dengan sasaran segmen Old Blue Co,” imbuhnya.

Harus diakui, tren fashion denim kembali melonjak di tahun 2018, setelah sebelumnya sempat turun akibat kompetisi dengan leggings dan celana yoga. Namun kenyamanan dan fungsionalitas denim saat ini setara dengan tren pakaian olahraga yang digunakan sehari-hari, membuat denim kembali digemari.

Konsumen AS juga semakin tertarik dengan denim bergaya vintage dalam pembuatannya, yang tidak terlalu banyak proses atau pencucian. Denim dan pakaian kasual lainnya memegang pangsa pasar pakaian pria di AS sebesar 57,1 persen dan diperkirakan akan terus bertumbuh.

Sedangkan menurut Kepala ITPC Los Angeles, Antonius A. Budiman, partisipasi Old Blue Co dan Unionwell merupakan salah satu upaya ITPC LA memperkenalkan merk pakaian Indonesia ke pasar AS. “Ini sekaligus menangkap peluang dari tren pakaian pria di AS,” kata Antonius.

Seperti diketahui, pada periode 2017─2022, tren pasar pakaian pria di AS diperkirakan naik 1,4 persen. Nilai ini lebih tinggi dari pertumbuhan pasar pakaian wanita yang sebesar 0,8 persen. Sedangkan pasar grosir pakaian pria di AS tercatat sejumlah 48,8 miliar dolarAS dengan keuntungan yang diperoleh pelaku pasar dan industri senilai 2,4 miliar dolar AS.

Sementara itu, pertumbuhan pasar ritel pakaian pria AS tahun 2018 diprediksi sebesar 74,8 miliar dolar AS atau naik 20,5 persen dibandingkan tahun 2013 yang sejumlah 62,1 miliar dolar AS. Periode Januari–Juni 2018, Indonesia merupakan negara asal impor ke-5 untuk produk pakaian pria AS yang tercatat senilai 138,7 juta dolar AS atau meningkat 4,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang sejumlah 129,6 juta dolar AS. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P