Cendet Madura Terancam Punah, Komunitas Cendet Surabaya Imbau Masyarakat

Salah satu anggota Cendet Surabaya Community (CSC) sedang bercengkrama dengan burung Cendetnya. FOTO: SUREPLUS/DONY MAULANA

SURABAYA-SUREPLUS: Madura selain memiliki julukan ‘Pulau Garam’ ternyata memiliki pesona alam luar biasa, salah satunya yaitu hewan endemik Madura ini merupakan “penghuni” asli Madura. Namun, ada juga jenis faunayang memiliki keungulan dibandingkan hewan yang sama di daerah lain, baik hasil persilangan alami yang akhinrya melahirkan jenis hewan baru yang memiliki keungulan berbeda pula.

Bahkan salah satu diantaranya menjadi primadona di kalangan para pecinta hewan khususnya dunia burung. Sayangnya, sejumlah hewan khas Madura ini dalam kondisi yang memperihatinkan, banyak di antaranya yang terancam punah dan statusnya menjadi hewan yang dilindungi. Salah satu hewan tersebut salah satunya burung Pentet/Cendet.

Ketua Cendet Surabaya Community (CSC), Arland menjelaskan, bahwa burung Pentet (Cendet Madura) secara sepintas mungkin tidak jauh berbeda dengan jenis cendet lainnya yang mayoritas habitatnya ada di Jawa Timur. “Kalau Cendet Madura dewasa ciri-cirinya sudah jelas tampak dari warna bulu yang dominan hitam, lalu warna hitam di kepala tampak full hitam kelam sampai ke tengkuk, kebanyakan orang menyebutnya cendet gondrong,” papar pecinta cendet yang tinggal di Surabaya ini, Selasa (21/8/2018).

Selain itu, lanjut Arland menjelaskan, ciri-ciri cendet Madura dewasa juga tampak dari bentuk tubuhnya yang ramping, panjang dan proporsional. Ditambah lagi dengan karakter suara yang keras dan serak memekakkan telinga, serta memiliki mental fighter dan petarung sejati. Sayangnya, Burung Pentet ini sudah jarang kelihatan di daerah pegunungan (pedesaan). Padahal, pada tahun 80-an masih mudah didapat dan terlihat pada pagi dan sore hari saat mencari makan di area persawahan warga.

Namun, seiring perkembangan zaman, lahan hijau yang menjadi habitat burung ‘cerdas’ ini kian menjadi area pemukiman dan sektor industri. Populasi burung ini pun semakin hari kian menyempit. Surabaya, yang notabene merupakan kota terdekat dengan pulau Madura ini menjadi barometer Cendet di kalangan Kicau Mania Nusantara.

Perburuan burung endemik Madura ini kian gencar dilakukan oleh para oknum yang hanya memperhitungkan materi (uang) saja, mulai dari cendet dewasa hingga anakannya. “Sebenarnya cukup anakannya saja yang diambil dari sarangnya, jangan induknya. Karena jika induknya yang diambil akan sangat sulit untuk ditangkarkan atau dipelihara, dan risiko tingkat kematiannya sangat besar,” tegas Arland.

Kendati demikian, saat ini masih belum ada orang yang mampu menangkarkan atau mengembangbiakkan burung ini. Oleh karenanya Endemik asli Madura ini menjadi burung yang langka dan sangat diburu oleh kalangan Kicau Mania Nusantara.

Sebagai reaksi atas menurunnya populasi burung jenis ini, Komunitas Cendet Surabaya hadir ditengah-tengah pecinta burung kicau lainnya untuk menunjukan eksistensi burung endemik Madura itu dengan membawa pesan moral kepada masyarakat luas.

“Jangan memburu induknya karena induknya sangat sulit untuk dipelihara, biarkan mereka (Induk Cendet Madura) bebas di alamnya, cukup kita ambil anaknya saja, karena anaknya bisa kita rawat dan pelihara. Dengan begitu kita sudah membantu untuk menjaga populasi asli mereka (Cendet Madura) di habitatnya. Ayo kita jaga bersama populasi Cendet Madura,” tegas Arland sembari mengimbau masyarakat.

Arland juga berharap kepada seluruh masyarakat luas yang gemar membeli burung (khususnya burung cendet) dewasa hasil dari tangkapan liar agar menghentikannya. Sebab, dengan begitu para oknum tersebut kapok untuk meperdagangkannya. “Buat menjaga kelestarian cendet, saya harap teman-teman pecinta cendet untuk tidak membeli cendet dewasa yang diambil dari alam liar,” tukasnya.(DONY/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas