Menkeu: Jadikan Disrupsi Teknologi sebagai Peluang Baru

Disrupsi teknologi memunculkan peluang baru. Seperti munculnya Gojek, Traveloka, Buka Lapak, Tokopedia di Indonesia. Tampak ilustrasi Menkeu Sri Mulyani di salah satu acara. FOTO: @KEMENKEURI

JAKARTA-SUREPLUS: Pemerintah terbuka terhadap masukan untuk perbaikan kebijakan dan peraturan dalam menjadikan disrupsi teknologi sebagai peluang. Kesenjangan yang ditimbulkan disrupsi teknologi misalnya hilangnya pekerjaan akibat digantikan oleh robot atau teknologi.

Namun, disrupsi teknologi juga memunculkan peluang baru seperti munculnya Gojek, Traveloka, Buka Lapak dan Tokopedia di Indonesia. Di tingkat dunia, Amazon dan Ali Baba merupakan contoh bahwa teknologi bisa dioptimalkan menjadi suatu peluang.

“Kami sangat terbuka menerima masukan untuk perbaikan kebijakan dan peraturan, dalam menjadikan disrupsi teknologi sebagai peluang,” kata Menkeu Sri Mulyani, seperti dikutip dari kemenkeu.go.id, Selasa (21/08/2018).

Paparan tentang peluang disrupsi teknologi tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani di acara Pathways for Prosperity: Multi Stakeholders Group Discussions. Tema yang dimunculkan adalah ‘Rapid Technological Change: Challenges and Opportunities in Indonesia’. Acara digelar di Aula Mezanine Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (20/08/2018).

Menurut Menkeu, perubahan teknologi dan adanya platform bisnis baru mendesak Pemerintah untuk terus belajar dalam mendesain kebijakan dan peraturan yang adil dan menciptakan lingkungan bisnis yang sehat bagi para pelaku bisnis dan stakeholders terkait.

Maka, Menkeu mengapresiasi keterlibatan Pathways for Prosperity Commission on Technology and Inclusive Development dalam membantu Indonesia mengidentifikasi, mengumpulkan, mendiskusikan dan memberikan masukan perbaikan kebijakan publik dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.

“Untuk itu, hubungan antara seluruh stakeholders menjadi penting untuk bisa membuat formulasi bagaimana negara-negara bisa menyiapkan diri. Belajar dari semua terutama mereka-mereka yang memiliki track record dan competency. Itu akan sangat membantu kita untuk bisa membantu memperbaiki kualitas public policy kita,” katanya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P