Sarung Tenun Tradisional Gresik Kembali Menggeliat

sarung tenun tradisional
Seorang perajin sarung tenun tradisional Gresik, sedang menenun memenuhi pesanan konsumennya. FOTO: SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS: Usaha sarung tradisional Gresik kembali menggeliat setelah beberapa tahun terakhir sempat menurun. Salah satu pemilik usaha sarung tenun tradisional, Mufid Hasan (49) asal Dusun Jambu, Desa Semampir, Kecamatan Cerme, Gresik, mengakui meningkatnya peminat sarung jenis ini lantaran masyarakat modern mulai merindukan produk handmade seperti ini.

Mufid sendiri mengakui, upayanya mempertahankan pembuatan sarung dengan alat tradisional, bukan mesin (ATBM), karena keunikannya. Dari segi hasil juga berbeda antara sarung tenung dengan sarung yang dibuat dari mesin berteknologi tinggi.

Saat ini, usaha sarung tenun tradisional ini hanya tersisa sedikit. Maklum, banyak yang gulung tikar seiring menurunnya permintaan dari Timur Tengah. Maklum, dulu pasar terbesar sarung jenis ini berasal dari negara-negara Asia Timur.

“Kami pernah mengalami kejayaan di tahun 1990-an. Namun, saat ini hanya beberapa gelintir yang bertahan, termasuk milik saya ini,” ujarnya, Senin (20/08/2018).

Mufid menjelaskan, usahanya bisa bertahan sampai sekarang karena mengurangi jumlah produksinya, atau menyesuaikan dengan permintaan. Jadi saat sepi order, Mufid hanya memproduksi sekitar 8 kodi. Sewaktu banyak permintaan, ia bisa menghasilkan 20 hingga 25 kodi.

Untuk proses pembuatannya, usahanya ini membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Untuk omsetnya, meski tak terlalu besar, minimal cukup untuk menghidupi keluarga.

“Usaha sarung tenun saya sampai sekarang memberi pemasukan yang cukup. Meskipun usaha tersebut agak sulit ditingkatkan produksinya karena kesulitan mencari tenaga kerja. Sebab, pekerjanya didominasi usia lanjut usia atau 50 tahun ke atas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam satu minggu, saat prosesnya produksi dan pengirimannya lancar, ia bisa memperoleh Rp 3 hingga Rp 4 juta. “Hasil itu tergantung permintaan dan motifnya,” terang Mufid.

Saat ini, ada dua kota yang menjadi pelanggan tetapnya. Yakni, Kota Surabaya dan Medan. Di Medan, sarung buatannya lebih banyak dipakai oleh perempuan karena diberi nama dengan merek “Sri Ulina” yang artinya sama cantik. Sebaliknya di Surabaya, diberi merek “Donggala” karena pemakainya dominan laki-laki,” pungkasnya. (ALI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas