Memaknai Estetika Keris Tradisonal di Pameran Kriya Keris Nusantara

Pameran Kriya Keris Nusantara
Salah satu keris yang dipamerkan di Pameran Kriya Keris Nusantara, Grand City Surabaya, 15-19 Agustus 2018. Berbeda dengan event serupa di tahun lalu, kini, sisi estetika jauh lebih dilirik daripada sisi magis. FOTO : SUREPLUS/HENDRO D. LAKSONO

SURABAYA-SUREPLUS: Melengkapi rangkaian event Koperasi dan UMKM Expo 2018 di Grand City Surabaya, 15-19 Agustus 2018, Pameran Kriya Keris Nusantara kebanjiran pengunjung di hari terakhir pelaksanaan.

Banyak kolektor, perajin, dan pengunjung lainnya datang untuk melihat dari dekat 1.745 keris dari seluruh nusantara. “Kebetulan mampir di Surabaya, lalu ada teman bilang kalau ada pameran keris terbesar di Indonesia di Surabaya. Saya langsung mampir,” kata Agus Widodo, warga Kota Malang, saat ditemui Sureplus.id di lokasi expo, Minggu (19/8/2018) malam.

Bapak dua anak yang aktif sebagai kontraktor ini kebetulan kolektor keris sejak lima tahun lalu. Ayahnya yang tutup usia mewariskan 16 keris yang diperoleh dari Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Sumenep. Dari situ, ia tertarik untuk ikut meneruskan hobi ayahnya.

“Sekarang koleksi saya masih 40-an. Kalau dihitung dengan keris yang biasa saja ya sudah 100 lebih,” katanya. Datang ke lokasi sejak pukul empat sore, Agus sempat membeli dua keris.

“Yang satu dari Solo, yang satu Yogyakarta. Total Rp 9 juta-an. Harusnya Rp 14 juta. Ternyata di belakang bisa ditawar. Syukurlah,” senyumnya. Agus mengaku tidak terlalu tertarik pada sisi magis sebuah keris. Ia lebih melihat pada sisi estetika, mengingat keris merupakan warisan leluhur yang adiluhung.

Lebih jauh ia menjelaskan, saat membeli, ia fokus pada bagian mendak, ganja, wilah, dan luk. Untuk wadah keris, meski penting, ia mengaku lebih kompromis. “Warangka, pendok, dan ganjar, katanya lebih berfungsi untuk memperindah. Tapi saya pribadi berpikir kalau estetika sesungguhnya tetap pada keris. Ini ilmu dari ayah saya almarhum,” katanya.

Menurut Sutrisno Sanjaya, pemilik Griya Pusaka, pelaku jual beli pusaka peserta Pameran Kriya Keris Nusantara, memang ada kecenderungan jika kolektor keris terus bertambah. Bedanya, dulu orang berburu berkah dari sisi magis keris, sekarang tidak.

Sebagian pembeli koleksinya yang bernilai Rp 5 juta hingga Rp 25 juta, sebagian besar melihat keris sebagai simbol keindahan warisan leluhur.

“Keris memiliki sisi keindahan yang luar biasa,” katanya. Terlebih, lanjutnya, keris adalah produk yang digarap secara manual dengan kaidah atau pakem yang tidak bisa dilanggar. Semisal, saat orang bikin keris ala Mataraman, maka pakem Mataraman itu akan dijaga.

Itu sebabnya, keris pada era Sultan Agung sampai sekarang memiliki kesamaan. “Salah sedikit saja sudah berantakan bentuknya,” kata Sutrisno.

Di pameran ini, ia mengaku sengaja memamerkan beberapa koleksi andalan. Khususnya keris Mataram era Sultan Agung. “Yang membedakan pada sisi sekar kacang dan pamor. Sekar kacang adalah salah satu ricikan keris yang paling terkenal hingga saat ini,” jelasnya.

Sekar kacang juga memiliki filosofi yang dalam. Dimana sebagai manusia, manusia harus meniru ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Sikap sombong dan lupa diri hanya membuat orang tersesat dan jatuh. (HDL)

Editor : Hendro D. Laksono