Sentra Kuliner Khas Banyuwangi Menjamur di Kampung Kopi Gombengsari

Kampung Kopi Gombengsari, di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi kini menjamur tempat-tempat kuliner khas Banyuwangi. Salah satunya Warung Secang. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Banyuwangi memiliki kampung yang terkenal dengan Kampung Kopi Gombengsari, di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Seiring berkembangnya pariwisata di Banyuwangi, kampung ini mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Tak heran, dalam setahun terakhir ini, di Gombengsari mulai menjamur tempat-tempat yang menyajikan sajian khas kuliner Banyuwangi. Salah satunya Warung Secang. Baru sekitar satu bulan warung beroperasi.

“Saat ini sudah ramai rumah makan, kafe, atau warung kuliner di tempat ini,” kata I Komang Dedi, pemilik Warung Secang kepada Sureplus.id, Sabtu (18/08/2018). Di sekitar Warung Secang, banyak tempat-tempat kuliner yang sedang renonvasi atau proses pembangunan.

Komang mengatakan, dirinya mencoba peruntungan membuka usaha kuliner setelah melihat tempat ini mulai ramai dikunjungi wisatawan. Warung Secang menjual berbagai makanan khas kuliner Banyuwangi. Menu utamanya ayam pedas dan telur bakso.

Selain makanan khas Banyuwangi, juga Warung Secang juga menjual minuman tradisional, seperti es cingcao dengan gula merah, beras kencur, dan lainnya. Tak lupa, yang menjadi kekhasan Gombengsari, yakni kopi rakyat.

Selain potensi kopinya, di sentra kuliner ini juga menjual suasana. Menikmati menu kuliner Banyuwangi dengan panorama Selat Bali. “Selain menu khas Banyuwangi, kami juga menjual suasana,” kata Komang.

Kampung Kopi Gombengsari ini memang telah dikenal sebagai Kampung Kopi Banyuwangi, karena setiap warga memiliki kebun kopi.  Suparno, penduduk Lerek mengatakan, dulu tanah di daerah ini tidak laku.

Sentra kuliner di Kampung Kopi Gombengsari juga menjual suasana alam yang menawan. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

Sekitar 1970-an, menurut Suparno, masyarakat di kampung ini mulai menaman kopi yang bibitnya diambil dari perkebunan kopi Kaliklatak, yang tidak jauh dari kampung tersebut. “Masyarakat dulu menanam kopi sembunyi-sembunyi. Karena saat itu kopi dilarang ditanam di luar area perkebunan. Ada yang menanam di tumpukan rumput, dan disembunyikan di tanaman lainnya. Saya juga termasuk yang menanam,” kata pria berusia 61 tahun itu.

Itulah mengapa sekitar pohon-pohon kopi di kampung ini ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain, seperti kelapa dan pepohonan lainnya.  Di kampung ini terdapat lahan kebun rakyat mencapai 1.700 hektar.

Hamparan kebun kopi itu, oleh warga setempat kini tidak dioptimalkan dengan sebagai tour wisata. Bahkan banyak warga yang mulai menjadikan rumahnya sebagai homestay untuk wisatawan. Paket wisata dengan pengalaman menjelajahi proses budidaya kebun kopi, panen, pengolahan hingga seduh, menjadi atraksi wisata desa ini. (HENDRO SUCIPTO/AZT)

Editor: Aziz Tri P