Rudy Hartono Kurniawan, Legenda Bulutangkis Dunia

Rudy Hartono. FOTO: Satnsun.com

Nio Hap Liang atau yang masyhur kita kenal dengan Rudy Hartono, sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi legenda bulutangkis dunia. Sederet penghargaan baik nasional maupun internasional telah ia terima; Olahragawan terbaik SIWO/PWI (1969 dan 1974), Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama, penerima pertama IBF Distinguished Service Award, IBF Herbert Scheele Trophy 1986, dan Honorary Diploma 1987 dari The International Committee’s “Fair Play” Award. Setelah berhasil menjuarai All England untuk kedelapan kalinya, namanya diabadikan dalam Guiness Book of World Records pada tahun 1982, dan dinobatkan sebagai salah satu Asian Heroes kategori Athletes & Explorers versi Majalah Time 2006.

Dilahirkan di Surabaya pada 18 Agustus 1949, Rudy Hartono Kurniawan adalah anak ketiga dari 9 bersaudara. Kegemarannya pada olahraga memang sudah nampak sejak kanak-kanak. Di SD, ia menyukai renang, di SMP, ikut bola voli, dan di SMA, menjadi pemain sepakbola. Akan tetapi di antara sekian banyak olahraga itu, hanya bulu tangkislah yang menjadi kecintaannya.

Bakat besar itu sebenarnya sudah terlihat sejak ia berusia 9 tahun. Akan tetapi ayahnya, Kurniawan, mantan pemain Kompetisi Kelas Utama Surabaya dan pemilik Asosiasi Bulu Tangkis Oke itu, baru menyadari setelah ia berumur 11 tahun. Dalam Rajawali dengan Jurus Padi, otobiografi yang ia tulis tahun 1986, Rudy menceritakan, sebelumnya ia hanya berlatih seminggu sekali dari pagi hingga jam 10 malam di jalan raya aspal depan kantor PLN Jalan Gemblongan, dan mulai mengikuti kompetisi-kompetisi kecil yang digelar malam hari, yang waktu itu hanya menggunakan penerangan lampu petromak.

Baru ketika Rudy mulai berlatih di Asosiasi yang dimiliki ayahnya, Rudy merasakan latihan profesional yang sesungguhnya. Program kepelatihan Zulkarnain ditekankan pada empat hal utama; kecepatan, pengaturan nafas yang baik, konsistensi permainan dan sifat agresif dalam menjemput target. Selanjutnya, Rudy lalu masuk ke klub yang lebih besar yaitu Rajawali Group yang dikenal menghasilkan banyak pemain bulu tangkis hebat.

Di akhir tahun 1965, ia dipanggil mengikuti Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas). Kemampuannya meningkat pesat. Ia menjadi bagian dari tim Thomas Cup yang menang pada 1967. Setahun kemudian, di usianya yang kedelapan belas tahun, ia meraih juara yang pertama di Kejuaraan All England mengalahkan pemain Malaysia Tan Aik Huang dengan skor 15-12 dan 15-9, dan menjadi juara di tahun-tahun berikutnya hingga 1974.

Gerakan Rudy dikenal cepat dan kuat. Ia sangat menguasai permainan dan tahu kapan harus bermain reli atau cepat. Sekali ia melancarkan serangan, lawannya nyaris tidak bisa berkutik. Meski sudah mengundurkan diri, banyak orang yang masih percaya bahwa ia masih bisa menjadi pemenang, sehingga banyak orang menjulukinya sebagai “Wonderboy”.

Setelah pensiun, ia sempat dipercaya menjadi Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI (1981-1985) di bawah kepengurusan Ferry Sonneville, dengan tanggungjawab membina para pemain-pemain yang lebih muda seperti Eddy Kurniawan, Hargiono, Hermawan Susanto dan Alan Budikusuma, sambil mengembangkan bisnis peternakan sapi perah di daerah Sukabumi dan bisnis alat olahraga dengan menjadi agen merkMikasaAscot, dan Yonex melalui Havilah Citra Footwear. Berkat pretasinya di dunia bulutangkis, United Nations Development Programme (UNDP) yang berada dalam naungan PBB, sempat menunjuk Rudy sebagai duta Indonesia dalam program melawan kemiskinan dan meningkatkan standar hidup, serta pemberdayaan perempuan. (Fahmi Faqih)