Menangkis Hoax lewat Aplikasi Anak Negeri

Tampilan Opinium, aplikasi anti hoax produk Indonesia. Lewat aplikasi ini, masyarakat diharap lebih mampu memfilter lalu lintas informasi, dan tak gampang terjebak info menyesatkan. FOTO : SUREPLUS/ERFAN HAZRANSYAH

SURABAYA-SUREPLUS: Menangkis gelombang hoax adalah tanggung jawab bersama. Ini juga yang meyakini beberapa orang di Yayasan Pawiyatan Suluh Nagari membuat aplikasi penguji informasi hoax bernama Opinium.

“Opinium bisa digunakan untuk menguji hoax, bukan membuat keputusan apakah ini hoax atau fakta,” kata Inisiator Opinium M. Hasanudin, saat ditemui Sureplus.id seusai Diskusi Klub Jurnalistik ‘Merdeka tanpa Hoax’ di Warung Mbah Cokro, Jl Raya Prapen, Surabaya, Jumat (17/8/2018).

Lewat aplikasi produk anak negeri ini, setiap orang bisa mengunggah informasi yang ingin diketahui, membuat analisa awal, kemudian menunggu komentar member lainnya. Dari situ, si pengguna bisa memutuskan apakah informasi yang diperoleh hoax atau fakta.

“Jadi ini aplikasi berbasis komunitas. Mereka yang berkomentar akan diuji juga kredibilitasnya. Komentar itu akan dilihat yang lain, apalah bermanfaat atau tidak. Dari situ bisa kelihatan standar reputasinya,” kata alumnus Universitas Brawijaya ini.

Artinya, komentar yang ada bukan model one man one vote, tapi seberapa kuat dan bermanfaat komentar terhadap unggahan informasi member. Unggahan itu meliputi URL, hingga pesan broadcast via WhatsApp, Line, Telegram, foto, serta video.

Berbekal teknologi ini, aplikasi Opinium yang baru diluncurkan awal Mei 2018 ini sudah didownload lebih dari 10 ribu kali dan user mencapai 7.670
akun.

“Data terbaru kami, post di Opinium sudah 2.005, respon atau komentar terhadap pos mencapai 5.549
reply, dan komentar terhadap respon mencapai 5.358 reply.

Opinium, lanjut Hasanudin, didesain untuk membantu pengguna dalam klarifikasi dan membantu dalam proses kurasi informasi yang didapat di dunia maya. Dengan fungsi ini, Opinium diharap mampu membantu meningkatkan kemampuan literasi digital pengguna dan konsumen informasi.

“Aplikasi ini seolah menggabungkan tiga fungsi. Pertama kesederhanaan sebagaimana media sosial. Dua, menjadi wadah interaksi dan diskusi layaknya sebuah forum. Dan ke-tiga, membangun integritas dan kredibilitas, sebagaimana situs FactCheck,” jelas Hasanudin. (HDL)

Editor : Hendro D. Laksono