Tak Menambah Defisit Neraca Berjalan dan Defisit Akun Perdagangan

Pemerintah berupaya mengharmonisasikan kebijakan ekonomi, namun tidak menambah defisit neraca berjalan dan defisit akun perdagangan. Tampak aktivitas ekspor impor. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI

JAKARTA-SUREPLUS: Pemerintah berupaya mengharmonisasikan kebijakan untuk mendorong ekonomi terus tumbuh, namun tidak menambah defisit neraca berjalan (current account deficit) dan defisit akun perdagangan (trade account deficit).

Pernyataan tersebut dikemukakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati seperti dikutip dari kemenkeu.go.id, Kamis (16/08/2018). “Upaya-upaya apa yang harus dilakukan antara Pemerintah bersama-sama dengan dunia usaha untuk memperbaiki seluruh sektor industri kita,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers Pertemuan Pengusaha dengan Wakil-wakil Pemerintah Indonesia di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (15/08/2018).

Ia mencontohkan, apakah itu mensubstitusi impor atau mendorong ekspor sehingga tetap bisa tumbuh tinggi. “Namun kemudian tidak menambah current account deficit atau bahkan trade account-nya deficit,” kata Menkeu.

Seperti diketahui, dalam Siaran Pers Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) di bi.go.id, Bank Indonesia memaparkan, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2018 mencatat defisit 2,03 miliar dolar AS.Hal itu seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik.

Defisit tersebut dipengaruhi oleh defisit pada neraca perdagangan non-Migas dan neraca perdagangan Migas. Secara kumulatif Januari-Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 3,09 miliar dolar AS.

Neraca perdagangan non-Migas pada Juli 2018 mencatat defisit 0,84 miliar dolar AS, didorong oleh kenaikan impor non-Migas yang melebihi peningkatan ekspor non-Migas. Defisit tersebut didorong oleh impor non-Migas yang tercatat 15,66 miliar, meningkat 6,53 miliar dolar AS (mtm) dibandingkan dengan impor bulan Juni 2018.

Kenaikan impor non-Migas ini terutama didorong naiknya impor barang modal dan bahan baku, termasuk mesin dan pesawat mekanik, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, plastik dan barang dari plastik, serta bahan kimia organik.

Peningkatan impor tersebut tidak terlepas dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya aktivitas ekonomi domestik. Bank Indonesia memandang defisit neraca perdagangan Juli 2018 tidak terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi, sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik.

Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan membaik sejalan dengan konsistensi bauran kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia dan sejumlah langkah yang ditempuh Pemerintah untuk mendorong ekspor dan mengendalikan impor, termasuk penundaan proyek-proyek pemerintah yang memiliki kandungan impor tinggi. (PRS/AZT)

Editor; Aziz Tri P