Lima Desa di Banyuwangi Mulai Kembangkan Budidaya Cacing Tanah

Sejumlah desa di Banyuwangi diarahkan mengembangkan budidaya cacing tanah (lumbricus rubellus). Selain perawatannya mudah, keuntungan yang dihasilkan cukup signifikan. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Sejak lima bulan terakhir, sejumlah desa di Banyuwangi diarahkan mengembangkan budidaya cacing tanah (lumbricus rubellus). Terdapat sekitar lima desa yang dijadikan sebagai sentra budidaya cacing, yakni Desa Patoman, Kelir, Singojuruh, Licin, dan beberapa kelurahan di Kota Banyuwangi.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Pemkab Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo mengatakan, memilih budidaya cacing tanah karena selain perawatannya mudah, keuntungan yang dihasilkan cukup menggiurkan. Tak kalah penting, Lumbricus rubellus ternyata memiliki sejumlah manfaat. Termasuk di bisang kesehatan dan kecantikan.

Di bidang kesehatan, lanjut Hary, cacing tanah yang memiliki kandungan protein dari asam amino yang tinggi tersebut berguna untuk mengobati thypus, diare, kolesterol, cacar air, lever, kolesterol, demam, bahkan kanker. Di bidang kecantikan, lumbricus rubellus juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik.

“Manfaat dari cacing ini sangat banyak. Karena itu, warga masyarakat di beberapa desa kami dorong untuk budidaya cacing ini,” kata Hary Cahyo Purnomo, Kamis (16/08/2018).

Hary menjelaskan, budidaya cacing tanah ini tidak membutuhkan modal dan lahan yang besar. Perawatannya juga sangat mudah. Untuk langkah awal, menurut Hary, dibutuhkan induk cacing tanah seharga Rp 85.000 per kilogram. Biasanya sebagai langkah awal, membutuhkan satu kuintal induk cacing. Dengan demikian, modal awal untuk membeli induk cacing seharga Rp 8,5 juta.

Budidaya cacing tanah tidak membutuhkan modal dan lahan yang besar. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

Kandang yang dibutuhkan tidak besar. Hanya membutuhkan kandang berukuran 0,8 x3 meter, dengan lima hingga enam tingkat. “Satu kuintal induk cacing bisa menghasilkan enam hingga tujuh kuintal cacing. Induk cacing pun juga masih bisa digunakan. Jadi kalau menghasilkan lima kuintal, ditambah induk cacing, menjadi enam kuintal cacing,” kata Hary.

Panen cacing ini tiap satu bulan sekali, dengan masa panen sekitar lima bulan. Tiap bulan bisa menghasilkan Rp 4,2 juta. Dengan demikian dalam lima bulan satu kandang menghasilkan Rp 21 juta. “Itu apabila menggunakan satu kandang. Kalau lebih dari satu tinggal dikalikan sendiri,” kata Hary.

Proses perawatan cacing ini juga mudah. Pakan cacing dari ampas tahu atau serabut kulit buah kelapa, yang mudah didapatkan di Banyuwangi. “Saat ini terdapat sekitar 30 peternak yang mulai budidaya cacing tanah ini,” tambah Hary. (HENDRO SUCIPTO/AZT)

Editor: Aziz Tri P