Bekraf Financial Club Hadirkan Startup Aplikasi

CEO iGrow, Andreas Sanjaya, startup bidang aplikasi yang menjadi salah satu narasumber pada Bekraf Financial Club (BFC) di Malang. FOTO: BEKRAF.GO.ID

MALANG-SUREPLUS: Keunggulan dunia teknologi ada pada kecepatan melakukan aktivitas yang scalable dan massive dalam waktu singkat. Meski beresiko tinggi dan banyak hal yang belum jelas pada subsektor aplikasi, namun potensinya sangat besar dalam menciptakan solusi untuk menyelesaikan permasalahan di market tujuan.

Model bisnis subsektor aplikasi di dunia ekonomi kreatif tersebut dipaparkan oleh CEO iGrow, Andreas Sanjaya, seperti dikutip dari bekraf.go.id, Kamis (16/08/2018). Jay, sapaan akrab Andreas Sanjaya menekankan, pengusaha rintisan atau startup hanya memiliki sumber daya manusia sebagai aset.

“Sehingga, skema pendanaan yang aman adalah dengan melihat founder yang mau bekerja keras pada bisnisnya,” kata Jay di pembukaan Bekraf Financial Club (BFC) di Ballroom II, Ijen Suite & Convention, Malang, Selasa (14/08/2018) lalu.

Bagi sumber pembiayaan perbankan dan non perbankan, kata Jay, founder merupakan faktor krusial dalam menyalurkan pembiayaan. Sedangkan angka pendanaan yang cukup digunakan bagi pelaku ekonomi kreatif subsektor aplikasi ada di angka Rp 500 juta.

“Saran saya perbankan jangan masuk saat tahap ide. Biarkan mereka berjuang pada prototype yang bisa kita lihat di pertumbuhan. Tapi juga jangan menunggu sampai mature karena tidak ada nafas untuk scale up. Fleksibilitas perbankan dituntut untuk menyesuaikan bertemu di titik tengah,” tambah Jay.

Sedangkan CEO Inagata Technosmith, M Miftahul Huda menambahkan, kebanyakan perbankan belum melihat peningkatan awareness user pada aplikasi yang dibuat startup. Tapi masih menanyakan aset.

“Startup subsektor aplikasi mengawali bisnis dengan biaya sendiri. Kemudian, angel investor mendukung startup pada pendanaan untuk bertahan menjalankan bisnisnya,” katanya

Huda menyampaikan harapannya untuk mengetahui posisi perbankan melalui BFC. “Kita butuh pendanaan saat masuk market, akhirnya rata-rata masuk ke Venture Capital. Saya belum tahu fase startup masuk ke perbankan. Harapan saya kita bisa tahu dimana perbankan bisa masuk ke startup yang tanda kutip tidak memiliki asset,” ungkap Huda.

Sementara Founder dan direktur CV Profile Image Studio, Amar Alpabet F.Z sebagai pelaku ekonomi kreatif subsektor aplikasi Malang menjelaskan, keunggulan startup subsektor aplikasi di Malang adalah komunitas yang kuat sekaligus tersedianya co-working space. Tetapi, accelerator dan incubator masih terbatas di Malang.

“Kita sedang mendorong di Malang yang mungkin ke depan bisa diterapkan perbankan karena ada dukungan pemerintah. Ide bagus, tim bagus, proyeksi bagus, timing bagus dan funding hanya untuk mem-push sedikit lagi,” kata Amar. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P