Ekspor dan Investasi Jadi Penggerak Utama Ekonomi RI

Motor penggerak utama ekonomi Indonesia, ekspor dan investasi. Maka banyak kebijakan menarik investasi, terutama berorientasi ekspor. Tampak ilustrasi aktivitas ekspor impor di Surabaya. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI

SURABAYA-SUREPLUS: Motor penggerak utama ekonomi Indonesia adalah ekspor dan investasi. Tak heran banyak kebijakan yang dikeluarkan untuk menarik investasi, terutama berorientasi pada ekspor. Namun ada pengaruh dari eksternal yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah perang dagang Amerika Serikat (AS)-China.

Paparan tentang penggerak utama ekonomi Indonesia itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Kuliah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Rabu (08/08/2018). Seperti diberitakan Siaran Pers kemendag.go.id yang dikutip Sureplus.id, Jumat (10/08/2018).

“Ekonomi global yang tengah dipengaruhi perang dagang itu, Indonesia justru harus bisa memanfaatkan peluang yang muncul dari kondisi ini bagi kepentingan Indonesia,” kata Mendag Enggar.

Dikatakannya, dampak langsung perang dagang AS-China terhadap Indonesia dalam jangka pendek diperkirakan relatif kecil. Hal ini dikarenakan pengaruh keterkaitan ke depan antara Indonesia dengan China maupun AS untuk produk-produk yang dinaikkan tarifnya, juga sangat kecil, yakni antara 0,01 persen hingga 0,03 persen.

Lebih lanjut dikemukakan Enggar, dengan kenaikan tarif yang ditetapkan AS dan China, maka akan terjadi pengalihan dagang untuk produk-produk tersebut. Artinya, AS dan China akan mencari pasar alternatif ke negara lain, termasuk Indonesia.

“Perang dagang AS-China juga akan membuat perekonomian negara-negara tujuan ekspor kita yang lain terganggu. Namun, hal ini tergantung dari daya tahan masing-masing negara dalam mengendalikan pertumbuhan ekonominya,” lanjut Mendag.

Maka Indonesia pun berupaya menjalin kemitraan perdagangan yang lebih kuat dengan negara-negara lain, termasuk AS dan China. Dengan AS, maka pada 24—27 Juli 2018, Mendag bersama pengusaha Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Washington, DC, AS, guna memperkuat perdagangan bilateral kedua negara.

Di tengah kecenderungan peningkatan proteksi perdagangan, Kemendag berupaya memperkuat negosiasi dan diplomasi perdagangan. “Pesan, posisi, dan sikap Indonesia dalam berdiplomasi dan bernegosiasi dalam forum bilateral, regional, dan multilateral, harus holistik. Artinya, mencakup aspek-aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan. Hal itu akan melibatkan juga perwakilan perdagangan di luar negeri,” kata Mendag Enggartiasto Lukita. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P