Industri 4.0 Jadi Kunci Pacu Produktivitas Baja Domestik

industri baja domestik
Dirjen ILMATE Kemenperin, Harjanto mewakili Menperin Airlangga Hartarto meresmikan pabrik Galvanizing, Annealing and Processing Line (GAPL) PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) di Cilegon, Banten. FOTO: @KEMENPERIN

JAKARTA-SUREPLUS: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya meningkatkan daya saing industri baja domestik, berbekal program dan kebijakan strategis dengan implementasi industri 4.0. Terutama peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Langkah ini diyakini menjadi kunci untuk mendongkrak nilai tambah bagi industri hilir teknologi tinggi. Kemenperin juga berupaya menyediakan pendidikan dan pelatihan yang link and match dengan dunia industri saat ini.

“Kami menerapkan persyaratan konten lokal dalam proyek infrastruktur serta mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk baja,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Harjanto.

Harijanto mewakili Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat peresmian pabrik Galvanizing, Annealing and Processing Line (GAPL) PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) di Cilegon, Banten, Selasa (07/08/2018) seperti dikutip dari Siaran Pers di kemenperin.go.id.

Menurut Harjanto, produk baja yang cukup banyak digunakan di sektor otomotif adalah jenis Hot Rolled Steel Coil (HRC), Cold Rolled Steel Coil (CRC), dan Galvanized Steel. Maka dengan beroperasinya pabrik PT KNSS yang akan memproduksi CRC dan Galvanized Steel dengan kapasitas sebesar 480.000 ton per tahun, diharapkan mengurangi produk impor serupa.

“Ini akan memberikan keuntungan dan dampak positif bagi perekonomian nasional melalui penghematan devisa dari substitusi impor, peningkatan pendapatan pajak, serta penggunaan bahan baku dan tenaga kerja lokal,” katanya.

Seperti diketahui, pemerintah memang bertekad untuk melindungi pasar industri baja di dalam negeri dari serbuan produk impor, seiring meningkatnya kapasitas produksi di tingkat global. Maka dibutuhkan sinkronisasi kebijakan yang berpihak kepada industri baja nasional. Apalagi potensi pasar domestik masih prospektif ke depannya.

Kemenperin mencatat, kebutuhan crude steel (baja kasar) nasional saat ini hampir mencapai 14 juta ton, namun baru bisa dipenuhi produksi crude steel dalam negeri sebanyak 8 juta ton hingga 9 juta ton per tahun. Kekurangannya dipasok dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India.

Di sisi lain, Kemenperin juga mendorong percepatan pembangunan klaster industri baja, misalnya di Cilegon, Banten yang ditargetkan dapat memproduksi hingga 10 juta ton baja pada tahun 2025. Selain itu, klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dan Morowali, Sulawesi Tengah. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P