Gunakan Tungku Pembakar Siklon, IKM Jamur Hemat Rp 28 Juta per Tahun

tungku pembakar siklon
Tungku pembakar siklon yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Balitbang Kementerian ESDM, mampu menghemat biaya produksi IKM. FOTO: ESDM.GO.ID

SUBANG-SUREPLUS: Pemakaian tungku pembakar siklon yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Balitbang Kementerian ESDM, terbukti mampu menghemat biaya produksi. Seperti dikatakan Ade Patas, pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) budidaya jamur Alam Sari di Subang, Jawa Barat.

Ade Patas mengakui, berkat pemakaian tungku pembakar siklon, ia dapat menghemat Rp 200.000 tiap kali dilakukan proses sterilisasi media tanam jamur. Sterilisasi dilakukan tiga kali seminggu.

“Jadi dengan tungku pembakar siklon, saya bisa menghemat biaya bahan bakar hingga Rp 28 juta per tahun. Hemat dan sangat bermanfaat bagi kami para pelaku IKM yang bermodal kecil ini,” kata Ade Patas, pria yang mengawali usaha budidaya jamur pada tahun 2005. Seperti dikutip dari esdm.go.id, Selasa (07/08/2018).

Ade kini telah memasok jamur tiram meliputi wilayah Indramayu, Bandung Cirebon, Bekasi, Jakarta hingga Tangerang. Sebagian besar produk jamurnya dikirim ke pasar, swalayan juga hotel.

Ia bercerita, sebelumnya ia menggunakan gas LPG dan kayu bakar untuk usahanya, tapi harga LPG kian mahal dan pasokan kayu bakar pun kerap tersendat. Kesulitan ini membuat Ade tertarik mengimplementasikan tungku pembakar siklon.

Setelah menggunakan tungku pembakar siklon, biaya bahan bakar kini hanya Rp 30.000 untuk membeli batubara dan biomassa berupa serbuk gergaji. Dengan teknologi co firing batubara dan biomassa juga ini ia juga dapat memanfaatkan limbah bekas media tanam jamur.

“Sebelumnya saya kewalahan membuang media tanam jamur bekas pakai tiap kali panen karena media ini hanya dapat digunakan untuk sekali tanam. Dulu kami jual limbah ke sejumlah petani, namun jumlah limbah yang diambil petani belum terserap sepenuhnya, sehingga sisa limbah pun menumpuk di belakang rumah,” ungkapnya.

Ade mencampurkan limbah media tanam untuk bahan bakar sehingga dapat mengurangi konsumsi serbuk gergaji untuk bahan bakar pembakar siklon. Sesekali ia tidak menggunakan batubara, dan menggantikan bahan bakar seluruhnya dengan limbah media tanam dan serbuk gergaji.

Tiap kali proses sterilisasi, Ade menggunakan empat tungku secara bersamaan. Satu tunggu menggunakan pembakar siklon sedangkan tiga tungku lainnya menggunakan kayu bakar.

Menurut Tenaga Ahli Menteri ESDM untuk Dewan Energi Nasional, Sugita, komersialisasi tungku pembakar siklon mungkin tidak memberikan keuntungan besar. Namun, kata dia, yang terpenting teknologi ini sangat membantu IKM dalam penyediaan energi baru secara murah. Hal tersebut turut diamini Kepala Puslitbang tekMIRA, Hermansyah.

“Tungku pembakar siklon merupakan teknologi yang tepat untuk IKM, karena murah, mudah dengan efisiensi tinggi,” kata Hermansyah.

Saat ini sedang dikembangkan kerja sama komersialisasi tungku pembakar siklon yang mencakup kerja sama dengan beberapa workshop, untuk mempermudah pabrikasi peralatan tungku siklon dan jaminan pasokan batubara untuk suplai bahan bakar ke pengguna. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P