Kyai Ali

Ilustrasi. FOTO; Nu.or.id

Di kota Alasik, kiranya tak ada orang yang lebih alim, lebih kaya raya lagi pemurah, melebihi Kyai Husein. Beliau adalah rujukan para ulama di zamannya. Dan rumahnya yang besar, tak pernah sepi dari tamu. Mulai dari kalangan santri dan kyai yang datang untuk menimba ilmu, sampai masyarakat luas dari berbagai strata sosial dan kepentingan, semuanya mendapat perlakuan sama – semuanya pulang dengan gembira.

Suatu hari, ketika sedang memberikan pengajian di hadapan murid-muridnya, seseorang datang dengan membawa pertanyaan yang tak lazim.

“Kyai Husein, adakah orang yang lebih hebat di negeri ini selain engkau,” tanya orang itu. “Ada. Namanya Ali, adikku sendiri. Ia tinggal di kampung Masturoh,” jawab Kyai Husein.

Tak berpanjang lebar, setelah mendapat jawaban dari Kyai Husein, orang itu berangkat ke kampung Masturoh. Akan tetapi betapa kecewanya orang itu manakala mendapati kenyataan bahwa Kyai Ali hanyalah seorang kyai miskin yang tinggal di gubuk reyot.

Karena terlanjur datang, orang itu membetahkan diri untuk berbincang dengan Kyai Ali. Satu jam yang menjemukan lewat. Tak ada suguhan apapun selain segelas air putih yang diambil Kyai Ali dari sumur di belakang gubuknya. Namun beberapa saat kemudian, tamu lain datang. Rupanya penduduk setempat yang baru pulang sehabis bekerja di rumah orang kaya di kota. Kyai Ali mempersilakan masuk, tapi tamu itu menolak.

“Sudah sore, kyai, saya harus cepat sampai ke rumah, istri dan anak-anak saya sudah menunggu,” katanya sambil memberikan sebuah bungkusan – entah berisi apa – kepada Kyai Ali. Sepeninggal penduduk kampung itu, Kyai Ali membuka bungkusan yang diberikan padanya, yang ternyata berisi dua potong roti kering ukuran sedang.

“Alhamdulillah ada makanan. Mari kita nikmati,” kata Kiai Ali sembari memberikannya sepotong kepada orang itu.

Mereka pun lantas memakannya. Kyai Ali, yang rupanya sudah terbiasa dengan makanan itu, terlihat sangat menikmati. Sementara orang itu, yang rupanya tak pernah memakan makanan seperti itu, harus susah payah menghabiskannya.

Singkat cerita, acara makan selesai. Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, orang itu pamit, kembali ke kota.

Sepanjang perjalanan ia tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Kyai Husein. Berkali-kali ia menguras otak mencari tahu di mana letak kehebatan Kyai Ali, namun gagal menemukannya. Merasa penasaran, sesampainya di kota, ia pun kembali menghadap Kyai Husein.

“Kyai, saya sudah bertemu Kyai Ali. Tapi apa yang Anda katakan tentang Kyai Ali, sungguh berbeda dengan kenyataan yang saya temui. Beliau hanya kyai kampung yang miskin yang tinggal di gubuk reyot. Tak ada jamuan seperti jamuan yang tersedia di rumah Anda, tak ada yang dapat dibanggakan pada dirinya. Saya berbincang lebih dari satu jam hanya ditemani segelas air putih yang beliau ambil dari sumur. Meski kemudian ada makanan, namun bukan makanan yang layak untuk dimakan. Tolong, sebelum saya berpikiran buruk mengenai Anda, tunjukkan kepada saya di mana letak kehebatan Kyai Ali seperti yang Anda katakan,” protes orang itu dengan nada terdengar kesal. Kyai Husein tersenyum – ia bisa memahami.

Dengan lembut Kyai Husein berkata, “Seandainya engkau sabar dan mau berendah hati ketika bertemu Kyai Ali, niscaya kau akan melihat ihwal apa sebenarnya yang dimiliki Kyai Ali sehingga aku berkata kepadamu bahwa Kyai Ali lebih hebat dariku. Ketahuilah olehmu, manakala aku bisa menghormat tamu-tamuku dengan makanan yang baik, dengan perlakuan yang baik, ketika aku mampu menunaikan hajat-hajat mereka, itu bukanlah perkara yang luar biasa, itu sudah sewajarnya karena Allah telah memberikan semuanya untuk memenuhi kebutuhan itu.

Tapi Kyai Ali, dengan segala kekurangan dan kepapaannya, ia masih bisa memuliakan tamunya meski hanya dengan segelas air sumur dan roti kering alot pemberian orang. Di sanalah letak kehebatan Kyai Ali, di sanalah kelebihannya.

Mendengar penjelasan Kiai Husein, orang itu akhirnya mengerti, dan tak lagi bertanya. (Fahmi Faqih)