Perajin Jam Dinding Gresik Kecipratan Berkah Asian Games 2018

Helmy Irawan Gunantoro sedang memamerkan jam dinding produksinya yang berbentuk Bhin Bhin dan Atung, maskot Asian Games 2018. FOTO : SUREPLUS/SAHLUL FAHMI

GRESIK-SUREPLUS : Gelaran Asian Games 2018 yang bakal dihelat di Jakarta dan Palembang ternyata membawa berkah bagi Helmy Irawan Gunantoro, perajin jam dinding berbahan Medium Density Fiberboard atau yang populer disingkat MDF.

Sejak sebulan lalu, pria 37 tahun itu sibuk memproduksi jam dinding dengan bentuk logo Asian Games 2018 serta tiga maskot resminya, yakni Bhin Bhin, Atung dan Kaka.

“Yang paling ramai dipesan adalah maskot,” ucap Helmy, sapaan akrabnya. Atung merupakan figur Rusa Bawean Gresik yang populasinya kian langka bahkan hampir punah karena perburuan liar. Tanduknya yang unik dan indah membuat Rusa Bawean banyak diburu. Karena itu melalui maskot Atung pemerintah ingin mengkampanyekan perlindungan bagi salah satu jenis satwa langka khas Indonesia tersebut.

Sebagai daya tarik dalam maskot ini, Atung digambarkan dengan mengenakan sarung bermotif tumpal khas Betawi yang melambangkan kecepatan. Sementara dua maskot lainnya, yakni Bhin Bhin adalah penggambaran dari burung Cendrawasih khas Papua serta Kaka, Badak Jawa.

Lebih lanjut Helmy menceritakan, pesanan awal memproduksi jam dinding Asian Games 2018 ini dari Dinas Koperasi Kabupaten Tangerang. Namun setelah produksinya tersebut dipublikasikan Helmy melalui media sosial, pesanan dari pihak lain mulai masuk.

Semula, ia hanya memperoleh belasana pesanan. Kini, jumlahnya sudah mencapai ratusan. “Mayoritas pemesan berasal dari luar kota, khususnya Jakarta,” kata Helmy, saat ditemui di workshopnya yang terletak di Perumahan Pesona Sekar Giri D-7, Kebomas, Gresik.

Jam dinding buatan Helmy memang cukup pas dijadikan souvenir. Karena ukurannya yang sedang, sehingga cukup praktis untuk dibawa sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan.
“Diameternya 30 centimeter dengan tebal 8 milimeter. Jadi cukup ringan, saya juga sediakan tas tenteng berbahan furing sehingga praktis untuk membawanya,” jelas pemilik usaha kerajinan bernama Kayu Tangan Manis itu.

MDF sendiri merupakan lembaran kayu yang terbuat dari serpihan-serpihan kayu bekas yang kemudian diolah menjadi lembaran kayu dengan tebal bervariasi. Sedang teknis pembuatan jam dindingnya Helmy terlebih dahulu mencetak gambar yang di atas kertas kemudian dilaminasi.

Setelah itu gambar ditempel di atas , kemudian dipotong sesuai bentuk gambar yang diinginkan. “Sesudahnya baru dipasang mesin jam serta jarum penunjuk waktu,” jelasnya. (SAHLUL/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono