Tingkatkan Peluang Ekspor Pesawat Terbang Indonesia

Sampai tahun 2017, PT Dirgantara Indonesia telah membuat 431 unit pesawat terbang. Saat ini sedang dikembangkan jenis CN 235 terbaru. Tampak CN 235 yang dipakai Merpati Nusantara. FOTO: EN.WIKIPEDIA.ORG

JAKARTA-SUREPLUS: Di tengah kebutuhan untuk menambah devisa negara, Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor pesawat terbang. Apalagi pesawat terbang buatan Indonesia sudah banyak diekspor ke mancanegara, dan ekspor tersebut masih bisa terus ditingkatkan.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Marolop Nainggolan menyampaikan peluang terebut ketika membuka pertemuan teknis dengan tema ‘Peluang dan Potensi Ekspor Pesawat Udara Indonesia’ di Hotel Grand Amarossa, Bekasi, Senin (31/07/2018) lalu.

Dikutip dari Siaran Pers Biro Humas Kementerian Perdagangan (Kemendag) di situs kemendag.go.id, Kamis (02/08/2018), pertemuan teknis tersebut menghadirkan narasumber dari PT Dirgantara Indonesia Tbk, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selain itu, pertemuan ini dihadiri perwakilan kementerian lembaga terkait, seperti Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Kementerian BUMN.

Dipaparkan dalam pertemuan teknis tersebut, sampai tahun 2017, PT Dirgantara Indonesia telah membuat sebanyak 431 unit pesawat terbang. Tipe yang paling banyak dipesan antara lain NC212i sebanyak 110 unit, helikopter NBO105 sebanyak 122 unit, dan saat ini sedang dikembangkan jenis CN 235, pesawat terbang kecil.

Dalam pertemuan tersebut juga mengemuka beberapa paparan soal hambatan yang ditemui negara calon pembeli, seperti tidak cukupnya dana buyer untuk melakukan pembayaran dan peraturan yang mengharuskan pembelian dilakukan melalui agen setempat. Hambatan lainnya adanya negara yang terkena sanksi PBB dan permintaan buyer untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.

PT Dirgantara Indonesia juga menyampaikan adanya rencana pembelian dari buyer Nigeria namun masih terkendala sistem pembayaran. Hal ini disebabkan oleh permintaan buyer agar pembayaran dilakukan melalui counter purchase, yakni pembayaran melalui pihak kedua yang dilakukan rekanan Indonesia.

“Melalui pertemuan ini diharapkan diperoleh informasi mengenai hambatan, tantangan, serta masukan terkait peluang ekspor pesawat terbang buatan Indonesia,” kata Marolop. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P