Bekraf Siapkan Start-up Kuliner Raih Investasi

Bekraf terus melakukan pengembangan subsektor kuliner. Tampak pengunjung saat mengamati stand-stand di ajang Kreatifood Expo 2018 di Ciputra World Surabaya, Jumat (27/07/2018) lalu. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI

SURABAYA-SUREPLUS: Berupaya membekali 93 pengusaha rintisan (start-up) subsektor kuliner sebagai finalis Food Start-up Indonesia (FSI) 2018, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun menggelar demoday FSI di Ballroom Hotel Ciputra World Surabaya. Pembekalan untuk start-up tersebut di antaranya pengetahuan untuk mendapatkan investor dengan talkshow dan mentorship.

Dikutip dari berita di bekraf.go.id, Selasa (31/07/2018), Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo memberikan materi tentang program kedeputian Bekraf untuk pelaku ekonomi kreatif. Fadjar juga menginformasikan produk lokal yang dibuat oleh perusahaan global yang menjadi tantangan start-up Indonesia.

“Lokalising yang dilakukan oleh perusahaan global. Nilai lokal yang dimasukkan di produk global adalah salah satu pesaing Anda,” kata Fadjar Hutomo.

Ia menambahkan bahwa 6.000 triliun pembiayaan berada di perbankan. Sedangkan pembiayaan non-perbankan hanya 12 triliun. Maka investor adalah salah satu sumber pembiayaan non-perbankan yang bisa diakses oleh start-up untuk mengembangkan bisnisnya.

Bekraf mengundang Christopher Angkasa untuk menjelaskan sudut pandang investor dalam berinvestasi. Chris mengungkapkan, hal pertama yang dibutuhkan saat membangun perusahaan adalah kesepakatan pendiri perusahaan untuk manajemen perusahaan dan menghindari konflik.

“Pemegang saham dan founder memerlukan transparansi yang tercermin dari laporan keuangan yang diinformasikan minimal sekali dalam satu tahun,” katanya. Chris juga menjelaskan bahwa start-up bisa memaksimalkan peran kebudayaan, komunitas, kolaborasi, dan kompetisi dalam mengembangkan bisnis mereka.

Chef Hugo menambahkan, FSI merupakan ajang untuk menjadi produk yang bersaing di mata investor dan mendapatkan investor. “Produk yang menjawab konsumen. Jika hanya lifestyle bisnis tidak akan bertahan lama,” katanya.

Bekraf turut mengundang founder berpengalaman di bidang kuliner untuk membagikan ilmunya kepada para finalis FSI 2018. Fajar Handika menjelaskan, dalam menjalankan bisnis yang sangat penting adalah perencanaan bisnis.

“Kita tidak bisa membuat sesuatu tanpa rencana. Sesuatu tanpa rencana sama saja merencanakan untuk gagal,” kata Handika. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P