Pemkab Banyuwangi Pasang 900 Alat Monitor Pajak

Pemkab Banyuwangi telah menerapkan tax monitor dengan memasang e-tax di tempat usaha rumah makan. Ini untuk mengoptimalkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI – SUREPLUS: Berupaya mengoptimalkan pendapatan daerah, terutama dari sektor pariwisata, Pemkab Banyuwangi pun menerapkan tax monitor atau alat monitor pajak bagi usaha rumah makan dan sejenisnya. Rumah makan yang tidak dipasang tax monitor, maka pemiliknya akan mendapat peringatan hingga penutupan tempat usaha.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Banyuwangi, Muhammad Yanuarto Bramuda, rumah makan dan sejenisnya memang tumbuh pesat seiring berkembangnya sektor pariwisata di Banyuwangi.

“Pemerintah telah berupaya keras agar pariwisata berkembang pesat, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Maka sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang membuka usaha rumah makan dan sejenisnya, untuk membayar pajak sesuai dengan aturan,” kata Bramuda kepada Sureplus.id, Jumat (20/07/2018).

Tempat usaha rumah makan dan sejenisnya dikenakan pajak 10 persen. Bramuda mengatakan Pemkab Banyuwangi telah menerapkan tax monitor, dengan memasang e-tax di tempat usaha rumah makan. Dengan alat ini bisa diketahui jumlah omset di tiap tempat usaha. Sebagai transparansi, maka wajib pajak juga bisa melihat langsung jumlah pajak yang diterima melalui situs resmi Pemkab Banyuwangi.

Bramuda menegaskan, pihaknya akan menindak tempat usaha yang tidak taat pajak.

“Kami akan berikan peringatan terlebih dahulu. Apabila tiga kali peringatan tidak dihiraukan, kami akan menutup tempat usaha tersebut. Sebaliknya bagi tempat usaha yang taat pajak, akan mendapat reward,” lanjut Bramuda.

Sementara Dwi Marhen Yono, Kabid Produk Wisata Disbupar Banyuwangi menambahkan, sejak 2017 telah diterapkan tax monitor di sejumlah rumah makan dan warung. Untuk memperluas jangkauan, di tahun 2018 ini disiapkan 900 e-tax untuk wilayah Banyuwangi.

“Program ini resmi diterapkan sejak 21 Juni lalu. Dari 900 e-tax yang disediakan, 200 e-tax telah didistribusikan ke tempat usaha. Targetnya, dua bulan seluruh alat sudah kita sebar se-Banyuwangi,” jelasnya.

Marhen mengakui tidak semua tempat usaha rumah makan taat pajak. Bahkan ada rumah makan yang enggan untuk memasang e-tax. “Alasannya macam-macam. Kekhawatiran pengunjung akan turun sebenarnya tak beralasan. Karena ada warung sederhana Mie Nyonyor yang sehari bisa setor pajak sampai Rp 1 juta per hari. Omsetnya juga tidak terganggu,” ungkapnya. (HENDRO SUCIPTO/AZT)

Editor: Aziz Tri P