Yang Lebih Utama

Ilustrasi. FOTO: Jawad Zakariya

Suatu ketika, sufi cemerlang abad ini, al-Habib ‘Ali al-Jufri ditanya, manakah yang lebih utama antara membangun masjid dan menolong orang miskin. Habib ‘Ali menjawab, jika di suatu daerah masjid sudah ada dan sudah memadai, maka menolong orang miskin adalah yang utama. Akan tetapi jika masjid belum ada atau sudah ada tapi belum memadai, maka yang utama adalah melakukan keduanya; membangun masjid sekaligus menolong orang miskin. Sehubungan dengan pendapat Habib ‘Ali, mari kita simak cerita berikut.

Dalam pengembaraan ke gurun pasir untuk beribadah kepada Allah dan merenungkan kebesaranNya, sufi ternama Ibrahim ibn Adham berjumpa dengan seorang musafir dan terlibat percakapan dengannya.

“Aku melihat ada cahaya kebaikan memancar dalam dirimu. Allah menyertaimu,” ujar Ibrahim.

“Benar, Allah memang tengah bersamaku, wahai Ibrahim,” jawab musafir itu.

“Dari mana kau tahu namaku,” tanya Ibrahim.

“Aku tidak lagi bodoh sejak aku mengenal Allah”―dalam sebuah hadist disebutkan, “Takutlah akan firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah.”

“Bisa engkau tunjukkan bagaimana engkau bersama Allah,” tanya Ibrahim lagi.

Musafir itu lantas menghadap kiblat seraya mengucap “Allah” dengan suara yang panjang, lalu tersungkur. Musafir itu meninggal.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un … Gara-gara aku seorang saleh, seorang wali Allah, meninggal dunia,” gumam Ibrahim lirih.

Dengan penuh sesal, Ibrahim pergi mencari kampung terdekat. Kepada penduduk ia katakan, “Di sana ada orang saleh meninggal dunia. Tolong bawakan kain kafan dan pengawet. Kita harus ke sana untuk mengurus jenazahnya, memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkannya.”

Tapi sungguh aneh, benar-benar aneh! Setibanya Ibrahim bersama penduduk kampung di tempat itu, mereka tidak menemukan apa-apa. Jenazah itu raib. Mereka mencarinya seharian penuh, tetapi hasilnya tetap nihil. Padahal, Ibrahim yakin benar di mana ia baringkan jenazah itu sebelum ia pergi ke perkampungan penduduk.

Dalam kebingungannya, tiba-tiba terdengar suara, “Tidak perlu kau cari jenazah musafir itu. Allah telah menetapkan bahwa jenazah musafir itu tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak disalati, dan tidak dikuburkan oleh siapapun selain oleh para malaikat yang suci.”

Ibrahim terkejut dan bertanya, “ Apa sebenarnya keistimewaan orang ini?”

Suara itu menjawab, “Suatu hari, ketika berada di kampungnya, musafir itu keluar rumah tanpa sepotong pun makanan. Di jalan, ia menemukan sekeping roti kering sisa yang telah dibuang orang―ia kemudian memungutnya. Ketika roti ia basahi dan mulai ia makan, tiba-tiba seorang nenek renta yang tak kalah miskin, datang. Tubuh nenek itu gemetaran karena menahan lapar. “Nak, berikan makanan itu kepadaku, semoga Allah memberimu yang lain,” pintanya.

Tanpa pikir panjang, musafir itu memberikan sisa roti ditangannya, bahkan roti yang sudah ia kunyah pun ia keluarkan. “Ambillah, Nek,” katanya.

Nenek itu menerimanya. Membaca basmalah, lalu memakannya. Setelah dirasa tubuhnya mulai segar, nenek itu mengangkat tangan dan berdoa, “Semoga Allah membebaskanmu dari perbudakan nafsumu layaknya Ia membebaskanmu dari perbudakan lapar.”

Allah mengabulkan doa Sang Nenek dengan menjadikan musafir itu sebagai waliNya.

Berdasarkan pedapat Habib ‘Ali di atas, ditambah dengan cerita Ibrahim ibn Adham tadi, kiranya dapat kita simpulkan bahwa memenuhi kebutuhan faqir miskin memiliki pengaruh besar terhadap kedekatan seseorang dengan Allah. Dan nilainya, tak kalah besar dengan ibadah-ibadah lainnya. Wallahu’alam. [Fahmi Faqih]