Dukung Regenerasi Petani, PG Gelar Jambore Petani Muda II

Jambore Petani Muda II
Direktur Utama Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan Gunawan Yulianto, berfoto bersama peserta Jambore Petani Muda II 2018. FOTO : SAHLUL FAHMI

GESIK-SUREPLUS : Pengembangan dunia pertanian adalah tanggung jawab bersama. Mulai dari upaya regenerasi, hingga dukungan terhadap sektor agroindustri di Indonesia. Dengan kesadaran ini, PT Petrokimia Gresik (PG), anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), menggelar Jambore Petani Muda II di Gresik, 19-21 Juli 2018.

Berbeda dengan pelaksanaan tahun lalu, peserta jambore 2018 terdiri dari 42 pelajar dan 21 guru pendamping dari 21 SMK Pertanian di berbagai daerah.

Direktur Utama PG Nugroho Christijanto mengatakan, Petrokimia Gresik memiliki komitmen dan arah kebijakan yang berorientasi pada agroindustri dan pertanian masa depan. “Keberhasilan sektor agroindustri dan pertanian Indonesia pada umumnya sangat bergantung pada peran generasi muda Indonesia,” jelasnya.

Bentuk upaya PG untuk mendorong regenerasi petani adalah lewat Jambore Petani Muda. Dijelaskan, jambore ini merupakan kelanjutan dari jambore nasional Pelatihan Anak Tani Remaja (PATRA) 2014, sebelum akhirnya berganti nama jadi Jambore Petani Muda pada 2017.
Tahun sebelumnya, 2016, tidak ada jambore petani muda. Yang ada hanya kegiatan Sarasehan Petani, namun masih dengan tema regenerasi petani.

Nugroho melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan pertanian tak menarik bagi generasi muda. Di antaranya adalah tingkat pendapatan yang rendah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pendapatan rumah tangga petani hanya Rp14 juta per tahun.

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013, lanjut Nugroho, jumlah rumah tangga petani turun 20 persen dari 79,5 juta menjadi 63,6 juta, atau turun 15,6 juta rumah tangga. Hal ini diperparah dengan kondisi bahwa 61 persen petani Indonesia telah berusia lebih dari 45 tahun.

Jadi, alasan mengapa jambore pada tahun ini mengundang pelajar adalah, Indonesia saat ini memiliki 977 SMK Pertanian. Mereka tentunya menyimpan potensi besar untuk menjadi penerus dan penggerak pertanian di masa akan datang. “Karena memang tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan inspirasi sedini mungkin kepada generasi muda bahwa sektor pertanian adalah sektor yang sangat prospektif dan tak kalah menarik dengan sektor lainnya,” ujar Nugroho. (SAHLUL/HDL)

Editor: Hendro D. Laksono