Jepang dalam Tantangan Keberagaman (1)

Shinjuku, Tokyo. FOTO: Dok. pribadi Sarah Monica

Oleh Sarah Monica *

Setiba saya di Jepang—sebagai pengalaman pertama yang tidak pernah saya duga akan terjadi—ada 3 kesan pertama yang langsung menghantam saya; serius, tertib, dan monokrom. Di hari pertama, saya bermalam di daerah Shinjuku. Wajah-wajah tanpa ekspresi saya saksikan saat berjalan kaki di sepanjang Yotsuya-Sanchome street, di dalam subway, maupun sudut-sudut area merokok. Tanpa tukar cerita atau sekadar sapa, mereka hening seakan tenggelam dalam dunia pikiran atau dunia maya di gadget masing-masing.

Di jalan-jalan, nyaris tidak pernah saya temukan serpihan sampah sekecil apapun, bahkan puntung rokok harus disimpan dalam saku celana sebelum dibuang ke tempat sampah. Segalanya tertata. Orang-orang yang berbaris di kiri ketika menaiki eskalator, membuang sampah sisa makanan masing-masing ke tempat sampah yang sudah terkategorisasi, merapikan kembali meja-kursi tiap selesai rapat atau kerja kelompok. Kedisplinan yang sudah membudaya, seperti terprogram dalam kepala mereka.

Hal menarik lainnya, bangunan dan manusia serasi-seragam dalam bungkusan warna-warna gelap atau pudar; hitam, biru navy, coklat, krem, putih, abu-abu, dan kembali ke hitam. Itulah mengapa saya sebut “monokrom”. Saya tidak melihat warna dan motif mencolok saling tabrak dalam satu kostum. Begitu pula bentuk rumah dan gedungnya, semuanya serupa. Barangkali keheranan saya timbul karena saya terbiasa melihat aneka warna di ruang hidup saya di Indonesia, meski dalam padanan warna, motif, atau bentuk yang tidak masuk akal sekalipun, saking beragamnya. Akan tetapi justru di sinilah menariknya, apakah ketiga kesan pertama saya itu berkaitan dengan persoalan ‘diversity’ (keberagaman) di Jepang?

Depopulasi dan Serbuan Imigran

Asia Center, Japan Foundation, menyelenggarakan sebuah program bertajuk EYES: Embracing Diversity. Peserta berasal dari 5 negara; India, Indonesia, Jepang, Filipina, dan Thailand. Masing-masing negara mengirimkan 2 perwakilannya. Program inilah yang membawa saya mengalami 10 hari tak terlupakan di Jepang. Dalam kuliah bersama Profesor Toshihiro Menju, kami diperlihatkan persoalan yang sedang dihadapi oleh Jepang, yakni semakin merosotnya jumlah penduduk. Ada beberapa alasan yang mengakibatkan fenomena ini.

Ketatnya dunia kerja yang terbentuk dari kuatnya mental bekerja orang-orang Jepang, membuat sebagian besar dari mereka sulit memutuskan untuk menikah. Apabila menikah, pasangan-pasangan tersebut juga terbentur pada masalah mengurus anak. Biaya hidup yang tinggi mau tidak mau memaksa mereka meninggalkan anak-anak mereka di rumah, atau memilih untuk tidak memiliki anak. Sebuah konsekuensi getir bagi masyarakat yang hidup di dunia industri perkotaan.

Dari tahun ke tahun jumlah penduduk asli Jepang semakin menurun akibat kematian atau perpindahan ke lain Negeri, tanpa ada regenerasi karena tingkat kelahiran hanya sebesar 1,43% (Worldbank Data, 2016). Pemerintah Jepang telah mengeluarkan kebijakan untuk menstimulasi masyarakatnya agar menikah, memiliki setidaknya dua anak, dan mau merawat orangtuanya dengan cara memberikan insentif bantuan dana. Akan tetapi hal ini belum begitu membuahkan hasil. Ibarat kemustahilan, masyarakat terjepit tingginya ongkos hidup, sehingga mereka (laki-laki maupun perempuan) harus bekerja keras, namun di sisi lain mereka pun didorong untuk berkeluarga bahkan merawat orangtua mereka. Tidak ada sinkronisasi dalam upaya solusi tersebut.

Isu depopulasi akan semakin jelas berdampak dalam beberapa dekade ke depan. Jepang yang pada dasarnya homogen secara ras, kultur, dan bahasa, kini menghadapi ancaman terselubung dari keberagaman karena serbuan para pendatang dari luar Jepang yang mengadu nasib di Negeri Sakura ini. Jika masalah depopulasi tidak teratasi, dan masyarakat Jepang tidak mampu membuka diri dalam keberagaman, di masa depan Jepang akan kesulitan untuk mewariskan kekayaan sejarah, tradisi, dan kulturnya pada generasi baru di tengah gempuran globalisasi yang menghilangkan sekat antar-negara, antar-masyarakat dan budaya. (Ed. Fahmi Faqih)

*) Sarah Monica, penyair, peserta EYES: Embracing Diversity