Garis Kemiskinan di Jatim Meningkat 3,68 Persen

Bulan Maret 2018 lalu, kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 74,24 persen. Garis kemiskinan merupakan harga yang dibayar oleh kelompok acuan, untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non-pangan. FOTO : SUREPLUS/AHMAD MUKTI

SURABAYA-SUREPLUS: Berdasar hasil Susenas periode September 2017-Maret 2018, garis kemiskinan di Jawa Timur meningkat sebesar 3,68 persen atau naik Rp 13.272 per kapita per bulan, dari Rp 360.302 per pada September 2017, menjadi Rp 373.574 per kapita per bulan pada Maret 2018.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono, seperti ditulis di laman jatimprov.go.id, Kamis (19/7/2018). “Garis kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin,” ujar Teguh.

Ia menjelaskan, penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan harga yang dibayar oleh kelompok acuan, untuk memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kkal per kapita per hari, dan kebutuhan non-pangan esensial seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lainnya.

Lebih lanjut Teguh memaparkan, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibanding peranan komoditi bukan makanan. “Pada bulan Maret 2018, kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 74,24 persen,” terangnya.

Pada pemetaan garis kemiskinan kota dan desa, Teguh mengatakan, di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. Garis kemiskinan perkotaan meningkat sebesar 3,33 persen, sementara wilayah pedesaan sebesar 3,88 persen. Tingginya kenaikan garis kemiskinan itu meliputi garis kemiskinan makanan, dimana untuk perkotaan 3,53 persen dan 4,48 persen untuk perdesaan, dan garis kemiskinan bukan makanan, perkotaan 2,81 persen dan pedesaan 2,08 persen.

Berdasar data yang ada juga bisa dilihat, pada Maret 2018, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya sama.

“Seperti beras yang memberi sumbangan sebesar 22,41 persen di perkotaan dan 25,61 persen di pedesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua kepada garis kemiskinan, dimana 10,19 persen di perkotaan dan 9,77 persen di pedesaan,” kata Teguh. (PRS/HDL)

Editor: Hendro D. Laksono