Asyiknya Adu Kreasi Makanan Non-Beras Banyuwangi

non beras
Sebagian anggota delegasi peserta pelatihan internasional di Banyuwangi, ikut menikmati kreativitas dan kelezatan makanan peserta lomba. FOTO : SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS : Berbagai bahan non beras dan non terigu diolah sedemikian rupa menjadi makanan lezat. Pisang jadi ‘nasi goreng’, talas menjadi salad, jantung pisang jadi perkedel, bahkan ubi ungu menjadi puding. Kesibukan ini muncul dalam lomba kreasi menu yang digelar di Pantai Grand Watudodol, Banyuwangi, Rabu (18/7/2018).

Ketua Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi, Ipuk Fiestiandhani Azwar Anas mengatakan, acara ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kreasitivitas masyarakat dalam mengolah makanan yang mengandung karbohidrat.

“Kita harus mulai mengenal dan mengolah karbohidrat dari bahan lain selain nasi dan tepung. Karena jumlah lahan pertanian kita semakin berkurang sementara jumlah penduduk terus bertambah, jadi kita harus kreatif mencari alternatif karbohidrat, misalnya dari umbi-umbian,” jelas Dani, panggilan akrabnya, saat membuka event tersebut.

Dijelaskan, lomba diikuti oleh ibu-ibu PKK se-Banyuwangi. Mereka berkompetisi menyajikan olahan non-beras dan non terigu terbaik. Seperti yang ditunjukkan Kecamatan Kalibaru lewat menu ‘nasi goreng’ dari pisang.

“Ini dari pisang agung yang dikukus, lalu diparut kasar. Baru kemudian diolah seperti nasi goreng. Sengaja kita menggunakan pisang agung karena kita ingin memanfaatkan potensi lokal. Di wilayah Kalibaru, pisang jenis ini sangat banyak dan harganya terjangkau, sehingga ekonomis,” kata Endang, salah satu anggota PKK Kecamatan Kalibaru.

Selain itu, ada juga menu Tiwul Bakar yang disajikan oleh kelompok PKK Kecamatan Muncar. Tiwul adalah olahan dari singkong yang dikeringkan (gaplek), kemudian ditumbuk menjadi tepung. Tiwul bakar ini disajikan bersama lauk pauk yang menggoda. Seperti, Cumi isi sayur bumbu rujak, kepiting isi daging ikan patin, dan scotel tempe yang nikmat.

“Kelihatannya mahal. Padahal biayanya murah lho. Karena di Muncar, harga ikan juga terjangkau. Jadi, tiwul ini tidak mengurangi kebutuhan konsumsi karbohidrat kita. Apalagi dipadukan dengan lauk pauk dengan gizi seimbang,” kata Indra Subariyono dari PKK Kecamatan Muncar.

Lomba kreasi ini mendapat perhatian delegasi dari 24 negara peserta pelatihan Internasional yang digelar di Banyuwangi. Mereka memuji kreativitas dan kelezatan makanan hasil kreasi para peserta lomba. Seperti yang dilontarkan Sanet Petschel, warga Afrika Selatan, yang sempat mencicipi kebab sidat atau oling. “Ini lezat sekali, saya suka banget,” kata Sanet.

Selain kebab sidat, Sanet juga sempat mencoba menu kepiting hasil kreasi ibu-ibu PKK Kecamatan Muncar. Sanet rupanya juga menyukai olahan kepiting yang dipadu dengan daging ikan patin. “Ini juga enak namun agak pedas. Kayaknya yang ada di sini enak semua,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Harry Cahyo Poernomo menjelaskan, lomba ini sebagai upaya mendorong kreativitas masyarakat mengembangkan dan menciptakan menu berbasis sumber daya lokal.

“Peserta sengaja diimbau untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya sehingga lebih ekonomis. Seperti Kecamatan Glagah yang punya sidat, mereka olah sidatnya,” ujar Harry. (HENDRO SUCIPO/HDL)

Editor: Redaktur : Hendro D. Laksono