Berbekal Resep Rahasia, Warung Mie Nyonyor Beromset Jutaan Rupiah

Warung Mie Nyonyor
Warung Mie Nyonyor milik Fendra Agoprilla Putra di Jl Medang Kamulan, Kecamatan Banyuwangi Kota yang menjadi pilihan para penghobi kuliner mie pedas. FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Kata nyonyor, menurut KBBI artinya bibir yang membengkak. Misalnya karena terantuk tembok. Tapi bagi Fendra Agoprilla Putra, pemilik usaha Warung Mie Nyonyor, kata nyonyor lebih diartikan sebagai orang yang kepedasan sampai bibirnya serasa membengkak.

Warung Mie Nyonyor, berlokasi di Jalan Medang Kamulan, Kecamatan Banyuwangi Kota. Lokasinya sebenarnya tak strategis karena berada di kompleks perumahan. Namun berkat kerja keras pengelolanya, Warung Mie Nyonyor kini memiliki omset jutaan rupiah.

Warung ini sekaligus juga tempat tinggal Fendra Agoprilla Putra yang baru berusia 28 tahun. Pria yang akrab disapa Ago itu menjelaskan, rata-rata tiap hari, pengunjung yang datang sekitar 200 hingga 300 orang. Jumlah itu meningkat di akhir pekan.

“Bahkan setelah Idul Fitri beberapa waktu lalu, pengunjung mencapai 500 orang hingga 600 orang,” kata Ago kepada Sureplus.id, Rabu (18/07/2018).

Tiap hari, warungnya menghabiskan empat hingga enam dus mie kering. Satu dus isi 20 mie kering, yang bisa menjadi 60 porsi mie. Rata-rata, menurut Ago, satu hari omsetnya Rp 4 juta hingga Rp 5 juta. Bahkan bisa lebih bila kondisi ramai. Tak heran jika warung rumahan ini bisa membayar pajak Rp 600.000 hingga Rp 1 juta.

Usaha yang dirintis Ago ini tentu saja tak semudah membalik telapak tangan. Ia memang mulai masuk ke dunia bisnis sejak masih kuliah. Alumni Untag Banyuwangi itu, mengawalinya dengan berjualan bakso. “Setelah lulus saya mulai gelisah, karena usaha bakso saat itu belum menyakinkan,” katanya.

Melihat banyak daerah lagi booming mie pedas berlevel-level. Akhirnya Ago mulai merintis Mie Nyonyor tersebut mulai 2012. “Awalnya saya tawarkan pada teman-teman kuliah. Ternyata mereka suka, sehingga saya memutuskan untuk membuka warung,” kata Ago.

Awalnya, pelanggan Ago adalah teman-teman kuliahnya. Dengan resep hasil eksperimen sendiri, lama-kelamaan mulai banyak pembeli berdatangan. “Dulu saya terapkan kuis di medsos, dan pemenangnya bisa makan gratis di sini. Lama kelamaan mulai banyak yang datang,” tambahnya.

Setelah sukses dengan warung Mie Nyonyor, Ago membuka pintu untuk mereka yang ingin merintis usaha serupa, tanpa dipungut biaya.

“Saya tidak membuka franchise. Tapi yang ingin membuka usaha serupa kami persilahkan. Kami training dan semuanya gratis. Hanya saja bumbu rahasia tidak bisa kami berikan, karena itu rahasia perusahaan. Tapi kami membolehkan untuk membelinya pada kami,” jelasnya.

Kini Ago menjalin kerja sama dengan 40 gerai serupa yang tersebar di berbagai daerah. Di antaranya, Bali, Solo, Surabaya, Jember, Lamongan, Lumajang dan Blitar.(HENDRO SUCIPTO/AZT)

Editor: Aziz Tri P