BPS Kota Kediri Gelar Survei Biaya Hidup 2018

Untuk Survei Biaya Hidup tahun 2018, Badan Pusat Statistik Kota Kediri menggandeng 60 SDM yang seluruhnya perempuan. Mereka terbagi dalam 40 perempuan sebagai pencacah, dan 20 lain sebagai pengawas. FOTO : AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri menggelar Survei Biaya Hidup tahun 2018 sebagai upaya memperbaiki acuan untuk memperoleh paket komoditas dan diagram timbang pada Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi.

“Memang seharusnya Indonesia menggelar Survei Biaya Hidup pada tahun 2017, tapi karena sejumlah kendala, baru bisa diadakan tahun 2018,” kata Kepala BPS Kota Kediri Ellyn T Brahmana pada sureplus.id, di Kota Kediri, Jumat (13/7/2018).

Survei biaya hidup ini, ungkap Ellyn, juga bertujuan untuk menentukan nilai konsumsi dasar dan mendapatkan profil keterangan profil sosial ekonomi rumah tangga di Tanah Air. Salah satunya untuk memperoleh gambaran tersebut di Kota Kediri.

“Survei ini sekaligus diwujudkan untuk melihat adanya perubahan patokan komoditi tertentu dalam penentuan inflasi yang ada,” katanya.

Oleh karena itu, BPS melakukan survei ini dengan menggandeng 60 SDM yang seluruhnya perempuan. Mereka terbagi dalam 40 perempuan sebagai pencacah, dan 20 lain sebagai pengawas.

Para petugas perempuan ini, direkrut karena dinilai merek lebih telaten dan sabar saat melakukan survei tersebut. Di sisi lain, hal ini juga lantaran survei biaya hidup ini erat kaitannya dengan perkembangan harga sejumlah komoditas makanan.

“Yang mana, pada kondisi inilah biasanya seorang perempuan lebih sering berperan, dibandingkan laki-laki,” katanya.

Secara teknis, lanjut Ellyn, para petugas survei ini akan turun ke rumah-rumah penduduk sesuai lokasi sampling guna mencatat kebutuhan per-rumah tangga. Beragam kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan untuk makanan, minum, hingga kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

“Survei biaya hidup untuk menentukan komoditas yang mempengaruhi inflasi. Komoditas yang dipilih, bersifat khusus bukan umum, meliputi beras, maupun minyak goreng,” katanya.

Sementara, pencatatan kebutuhan skala terkecil juga dilakukan misalnya pemakaian produk sampo, sabun, dan kebutuhan lainnya. Contoh, saat mensurvei barang tertentu, petugas akan memantau pemakaiannya selama periode tertentu dan sampai mengeluarkan uang belanja berapa.

“Nah, dari situ kita akan tulis dan nantinya ada evaluasi,” katanya.

Untuk diketahui, survei biaya hidup (SBH) ini berlangsung secara berkala yakni tiap lima tahunan. Awalnya survei ini diagendakan pada tahun 2017 karena terkendala sesuatu hal maka diundur menjadi diadakan tahun ini.

“Di Kota Kediri, jumlah responden dalam penentuan survei biaya hidup (SBH) sebanyak 400 orang. Mereka ini tersebar di tiga kecamatan dengan pertimbangan kondisi sosial ekonomi responden, sedangkan penentuan sampling berdasarkan penghitungan tertentu oleh BPS pusat,” katanya. (AYU CITRA SR/HDL)

Redaktur : Hendro D. Laksono