Benih Padi Unggul SPI 20 Wujud Kedaulatan Pangan Indonesia

Keberadaan benih padi unggul SPI 20 yang digagas petani SPI Tuban, Jawa Timur, merupakan wujud kedaulatan pangan di Tanah Air. FOTO : AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS: Desa Klanderan, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, saat ini didapuk menjadi perintis kedaulatan benih lokal. Langkah ini seiring upaya kalangan petani di Indonesia, di bawah naungan Serikat Petani Indonesia (SPI), memproduksi benih unggul sendiri, tanpa harus menggunakan bibit asal pabrikan atau perusahaan tertentu.

Menurut Nurhadi Zaini, Ketua Dewan Pengurus Wilayah SPI Jawa Timur, saat memberikan sambutan di hadapan massa SPI pada peringatan HUT ke-20 SPI di Desa Klanderan, diluncurkannya benih padi unggul SPI 20 yang digagas petani SPI Tuban, Jawa Timur, merupakan wujud kedaulatan pangan di Tanah Air.

“Kedaulatan pangan, terutama kedaulatan benih ini dapat terealisasi dengan melaksanakan sistem produksi pangan, berbasis agroekologi sebagai suatu sistem pertanian yang menyeluruh. Upaya ini selalu mempertimbangkan aspek lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat pertanian,” kata Nurhadi, Kamis (12/7/2018).

Idealnya, sistem pertanian ini tidak menggunakan benih produksi korporasi, pupuk, dan obat-obatan kimia. Akan tetapi menggunakan benih, pupuk, dan obat-obatan alami, serta pengetahuan tradisional yang ada di sekitar tanah pertanian dan juga adat petani.

Di lokasi yang sama, Ketua Umum SPI, Henry Saragih menyatakan, benih padi SPI 20 adalah salah satu bentuk keberhasilan petani SPI dalam usahanya menegakkan kedaulatan benih untuk kedaulatan pangan. Bahkan selama 20 tahun, SPI telah komitmen untuk selalu memperjuangkan kepentingan petani anggotanya.

“Kehadiran benih SPI 20 ini, yang ditangkarkan dan digagas oleh petani SPI merupakan salah satu contoh pencapaian yang sudah dicapai organisasi ini,” katanya.

Henry menambahkan, pada puncak peringatan HUT ke-20 ini, SPI sudah banyak berkiprah untuk mewujudkan keadilan agraria dan kesejahteraan petani. Tepatnya, melalui praktek-praktek perbenihan dan produksi pertanian secara agroekologis dan koperasi, serta berperan aktif untuk mengusulkan dan mendorong kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Tujuannya, dalam mengimplementasikan distribusi lahan dan kedaulatan pangan. Bagi SPI, kemandirian ekonomi petani hanya bisa dicapai dengan menerapkan konsep reforma agraria dan kedaulatan pangan,” katanya.

Langkah ini, sebut dia,  di antaranya melalui penguasaan masyarakat tani atas tanah dan benih sendiri sebagai alat produksi mereka. Kemudian, proses produksi secara agroekologis dan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi kolektif petani.

Sementara itu, Kusnan, petani SPI sekaligus penangkar benih asal Tuban, Jawa Timur, menambahkan, benih padi unggul SPI 20 adalah padi silangan dari padi pendok dan padi IR 64 yang sudah bisa dipanen, setelah 75 hari masa tanam.

Rata-rata hasil panennya, adalah 6 ton per hektare dan berpotensi bisa mencapai 8 ton per hektare. Secara umum benih padi unggul SPI 20, tahan terhadap serangan wereng batang coklat, tidak disukai tikus, dan juga tahan terhadap hawar daun bakteri.

“Misalnya saja kresek, xanthomonas, dan blas. Penerapan benih padi ini juga cocok ditanam saat kekeringan, di sawah tadah hujan, serta sawah irigasi,” katanya. (AYU CITRA SR/HDL)

Editor: Hendro D. Laksono