Janji

Janji adalah hutang
Ilustrasi. FOTO; MstfKckVG

“Penuhilah janji, karena janji itu akan diminta pertanggungjawabannya”

—QS al-Isra 34

Janji adalah hutang. Karenanya, ia wajib ditepati. Tapi kita, dalam kehidupan kita, baik oleh masyarakat biasa, lebih-lebih para politikus setelah berhasil menjadi pejabat negara, janji seringkali diabaikan, diremehkan. Padahal kita tahu, baik melalui pengajian, khotbah, ceramah agama, dll, di antara tiga tanda-tanda orang munafik, ingkar janji adalah salahsatunya. Parahnya lagi, sikap abai dan meremehkan itu tak jarang dibumbui ucapan sok agamis, insha Allah, untuk tidak atau enggan memenuhi janji yang kita telah diucapkan. Padahal, insha Allah bukanlah kalimat pasif, melainkan aktif. Artinya, ia adalah kalimat yang harus dibarengi dengan upaya sepenuh hati untuk menunaikan apa yang telah kita sanggupi, apa yang sudah kita janjikan. Insha Allah kita hanya fasih lidah, namun terbata-bata dalam perbuatan.

Mari kita lihat teladan agung Nabi SAW dalam perkara ini.

Suatu ketika, Nabi SAW janji bertemu dengan seseorang di suatu tempat di dekat sebuah batu besar di luar kota. Beliau tiba lebih awal dari waktu yang ditentukan, lalu berdiri di dekat batu besar tersebut. Ketika sampai waktunya, orang yang ditunggu tak juga datang. Satu jam, dua jam, berjam-jam, sampai matahari naik tepat di atas ubun-ubun. Panas mulai menyengat tubuh Nabi SAW. Beberapa sahabat yang kebetulan lewat dan melihat Nabi SAW berdiri dalam keadaan kepanasan dengan pakaian basah bersimbah keringat, merasa tak tega, mereka berkata.

“Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau pindah ke tempat yang terhindar dari terik matahari.”

Nabi SAW menjawab.

“Aku telah berjanji bertemu dengan seseorang di tempat ini, dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai ia datang.”

Untungnya beberapa jam selepas sahabat-sahabat beliau yang lewat tadi berlalu, orang yang dinantikan, datang. Tak ada kemarahan terlihat dari wajah beliau, tak ada raut muka kesal.

Nabi SAW berkata kepada orang itu.

“Seadainya kamu tidak datang ke tempat ini, maka aku tidak akan beranjak sampai aku meninggal.”

Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala âli Sayyidina Muhammad. [Fahmi Faqih]