Usai Kebakaran, Pelindo III Ambil Langkah Antisipatif di Pelabuhan Benoa

Pelindo III Husein Latief
Pelindo III melakukan langkah antisipatif terkait pencegahan terjadinya kebakaran di wilayah operasinya. FOTO: PELINDO III

BENOA-SUREPLUS: Pelindo III melakukan langkah antisipatif terkait pencegahan terjadinya kebakaran di wilayah operasinya. Engineering, Information and Communication Technologi Director Pelindo III Husein Latief menyatakan bahwa pihaknya akan menyiapkan kebutuhan pencegahan kebakaran dari sisi laut dan darat.

Menggandeng instansi terkait, Pelindo III mereview sistem dan prosedur perizinan kapal serta menyiapkan kapal tongkang dilengkapi dengan pipa hydrant.

Tak hanya itu, Pelindo III juga akan menyediakan penempatan fasilitas docking kapal dan repair yang terpisah untuk kapal ikan. Dengan begitu, dermaga di Pelabuhan Benoa yang berbentuk “U” akan dibagi menjadi dua, yakni dermaga barat zona perikanan dan dermaga timur zona terminal cruise dan kapal cargo/petikemas akan ditempatkan terpisah.

“Saat ini kita juga sedang melakukan beutifikasi Pelabuhan Benoa dengan memperdalam alur dan kolam pelabuhan menjadi 12 LWS (Low Water Spring) atau kedalaman air surut terendah untuk layanan bongkar muat dan cruise serta 4 lws di dermaga perikanan,” sebutnya.

Upaya tersebut dilakukan oleh Pelindo III menyusul terjadinya kebakaran yang menimpa sekitar 39 unit kapal ikan/nelayan di Dermaga Barat atau disebut Dermaga Perikanan pada Senin dini hari sekitar pukul 02.00 WITA (09/07).

Dermaga Barat merupakan Dermaga Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) yang dikelola oleh pihak swasta yang diperuntukan sebagai tempat bersandar kapal ikan/nelayan yang mensuplai kegiatan industri perikanan di Pelabuhan Benoa.

“Lokasi kebakaran cukup jauh dari Terminal LNG di Dermaga Selatan dengan jarak kurang lebih 250 meter. Kita sudah lakukan dedicated terminal untuk penataan lokasi terminal LNG sehingga meskipun kebakaran besar terjadi, terminal LNG masih aman,” jelasnya.

Pihak Pelindo III akan terus memantau perkembangannya supaya aktivitas operasional dan layanan tetap berjalan lancar. Husein Latief mengatakan, bencana kebakaran ini akan menjadi titik balik bagi Pelindo III dan instansi terkait sebagai pelajaran dan pengalaman serta mengedukasi para ABK untuk selalu waspada dan menjaga aktivitasnya,

“Apalagi kapal mereka berbahan kayu tentunya mudah terbakar. Nantinya seluruh pihak akan bekerja bersama untuk penataan sandar kapal dalam penanggulangan kebakaran agar hal serupa tidak terulang lagi,” tuturnya.

Dalam pantauan Pelindo III, proses pemadaman sendiri tidak mengganggu aktivitas bongkar muat cargo, petikemas, kegiatan marina serta pelayanan terhadap pengguna jasa di Pelabuhan Benoa. Tercatat sebanyak 6 unit kapal bersandar di dermaga timur Pelabuhan benoa, Senin (9/7).

Enam kapal tersebut antara lain 1 unit kapal pesiar Equanimity sandar di dermaga timur, 4 unit kapal Pelni yaitu Bainaya, Leuser, Awu dan Tilong Kabila yang melakukan aktivitas embarkasi dan debarkasi, 1 unit kapal Meratus Sabang melakukan aktivitas bongkar/muat 135 boks peti kemas.

Sementara itu, CEO Regional Banyuwangi Bali Nusa Tenggara (BBN) Pelindo III I Wayan Eka Saputra menjelaskan, bahwa saat terjadi kebakaran Pelindo III sudah mengerahkan 1 unit kendaraan PMK, dan kapal tundanya untuk memadamkan api. Namun karena faktor kedalaman/draft kolam di dermaga barat hanya mencapai 2,5 m LWS sehingga kapal tunda tidak memungkinkan melakukan mobilisasi, karena setidaknya dibutuhkan kedalaman 3 m LWS agar kapal tunda bisa beroperasi,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, musibah kebakaran diperkirakan akibat percikan api dari dalam kapal ditambah dengan adanya hembusan angin kencang serta kondisi kapal yang menyimpan bahan bakar. Sehingga menyebabkan api cepat menjalar ke kapal lain yang sandar di zona perikanan. Apalagi, kapal yang tidak berkegiatan di Dermaga Barat saat itu cukup padat.

“Kami pastikan seluruh kegiatan operasional di Pelabuhan Benoa aman, lancar dan kondusif,” katanya.(AKBAR INSANI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas