Ritual Yadnya Kasada Suku Tengger

Pada hari ke-14 – 15 di bulan Kasada menurut penanggalan kalender Jawa, atau pada Kamis (30/06/2018), suku Tengger melaksanakan ritual Yadnya Kasada. Mengantarkan sesajen sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi, masyarakat Tengger juga memanjatkan doa bagi leluhur mereka di mulut kawah Gunung Bromo.

Dalam ritual Kasada, suku Tengger yang beragama Hindu memberikan persembahan kepada Hyang Widhi dan para leluhur. Sesajen tersebut bisa berupa uang, sayuran, buah-buahan, ayam hingga kambing. Persembahan akan dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Uniknya, banyak warga lain, terutama yang bukan Hindu telah menunggu di lereng kawah yang curam. Mereka memungut sesajen yang dilemparkan oleh warga Tengger.

Bagi suku Tengger, Gunung Bromo adalah tempat yang suci. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berada di gunung ini, sehingga Bromo menjadi pusat kegiatan spiritual mereka.

Suku Tengger adalah keturunan kerajaan Majapahit. Pada masa masuknya Islam dan kemunduran Majapahit, penduduk Majapahit yang tersisa memilih melarikan diri. Salah satu tempat pelariannya adalah di sekitar gunung yang mereka sebut juga dengan Gunung Brahma ini.

Awalnya adalah legenda Roro Anteng dan Joko Seger, nenek moyang suku Tengger. Pasangan suami istri ini memohon pada Dewata untuk dikaruniai anak. Dewa mengabulkan dengan syarat anak terakhir mereka harus dipersembahkan. Maka anak ke-25, Kesuma, dengan sukarela mempersembahkan dirinya dengan cara menceburkan diri ke kawah Bromo pada bulan Kasada, hari ke 10. Peristiwa ini menjadi awal mula upacara Kasada. SUREPLUS/AHMAD MUKTI

Editor : Erfan Hazransyah