Pengguna Meluas, Nilai Bitcoin Terancam Menguap

Ilustrasi bitcoin. FOTO: Ethereumworldnews.com

SURABAYA-SUREPLUS: Bitcoin maupun cryptocurrency lainnya memang fenomenal. Mata uang digital ini menyedot perhatian orang seantero dunia. Bahkan tak sedikit yang memilih untuk mengumpulkan kepingan mata uang digital ini dengan harapan yang sangat tinggi.

Hanya saja, dalam waktu dekat tampaknya jangan pernah berharap bitcoin dapat menggantikan mata uang tradisional yang biasa digunakan sebagai alat transaksi sehari-hari. Setidaknya, pesan itulah yang disampaikan oleh organisasi yang mewakili lusinan bank sentral dunia.

Bank for International Settlements (BIS) yang berbasis di Swiss mengatakan, minat kuat pada bitcoin dan cryptocurrency lainnya telah mendorong mereka untuk melihat lebih jauh mengenai kontribusi mata uang digital ini terhadap ekonomi. Namun hasilnya, mereka tidak terkesan. Ia justru merinci berbagai masalah dengan mencoba mengadopsi cryptocurrency sebagai  uang pada umumnya yang banyak digunakan sebagai alat transaksi.

Menurutnya, mata uang digital ini memiliki potensi bahaya yang relatif besar. Sebab proses semua pembayaran atau transaksi disimpan dalam buku besar digital.

Memang mata uang kripto memiliki daya tarik yang cukup besar bagi banyak orang karena terdesentralisasi, rekaman transaksi disimpan dalam buku besar digital. Bahkan lebih menarik dibanding terikat pada bank sentral seperti US Federal Reserve.

Namun, pengumpul bitcoin tanpa menyadari bahwa setiap transaksi yang ditambahkan ke buku besar digital akan dengan cepat membengkak di luar kapasitas server komputer yang digunakan untuk menyimpannya.

Superkomputer dibutuhkan untuk melakukan verifikasi pembayaran masuk, dan sejumlah besar data yang dipertukarkan antar pengguna bisa jadi akan berakibat internet berhenti. “Kalau penggunanya meluas, buku besar bisa error karena over kapasitas,” kata laporan itu, yang diterbitkan Minggu (24/6/2018) lalu.

Sebelumnya, para ahli sudah mengingatkan tentang besarnya kebutuhan  energi dalam setiap transaksi, sehingga bitcoin dapat berakhir jika penggunaannya meluas secara signifikan.

BIS menunjukkan kekhawatiran lain tentang penggunaan cryptocurrency sebagai uang reguler, termasuk volatilitas harga mereka. Harga Bitcoin melonjak menjadi sekitar 19.000 dolar AS akhir tahun lalu, Namun tak lama kemudian jatuh merosot tajam hingga 7.000 dolar AS.

Setiap transaksi bitcoin juga mengharuskan pengguna membayar biaya untuk menambahkannya ke buku besar digital. Pada saat permintaan tinggi, biaya meningkat. Selama perdagangan bitcoin booming pada bulan Desember, mereka melonjak menjadi sekitar 57 dolar per transaksi.

“Bayangkan saja, jika Anda membeli kopi 2 dolar dengan bitcoin, Anda harus membayar 57 dolar untuk melakukan transaksi itu,” kata Hyun Song Shin, kepala riset bank, dalam sebuah video yang menyertai laporan tersebut.

Dia mencatat bahwa beberapa orang memegang bitcoin bukan sebagai uang, tetapi sebagai aset investasi. Laporan itu juga mempertanyakan batas-batas kepercayaan pada mata uang kripto tersebut.

“Kepercayaan dapat menguap setiap saat karena rapuhnya konsensus terdesentralisasi dimana transaksi dicatat,” katanya. menambahkan bahwa “Berarti cryptocurrency bisa jadi berhenti berfungsi, dan mengakibatkan hilangnya nilai,” tambahnya.

Laporan tersebut tak sepenuhnya meremehkan mata uang kripto. Hyun tak menyangkal bahwa ‘teknologi yang mendasari’ cryptocurrency bisa menjanjikan dalam aplikasi lain, seperti penyederhanaan proses administrasi dalam penyelesaian transaksi keuangan, “Meskipun itu masih harus diuji,” sebutnya.(CNN/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas