Mahasiswa Belajar Ilmu Bisnis Migas di Booth Pertamina

[caption id="attachment_2823" align="aligncenter" width="800"] Para mahasiswa mendengarkan pemaparan tentang bisnis Migas di ajang Indonesia Petroleum Assciation (IPA) Convetion and Exhibition di Jakarta Convetion Center. FOTO: PERTAMINA.COM[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Memanfaatkan ajang Indonesia Petroleum Assciation (IPA) Convetion and Exhibition di Jakarta Convetion Center, anak perusahaan Pertamina berupaya mengedukasi masyarakat tentang ruang lingkup bisnisnya. Seperti dilakukan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dengan pembicara Adi Kustanto, selaku komersial PHI dan Pertamina EP Cepu (PEPC) yang diwakili Public Government Affair & Relation Manager PEPC, Kusnadi.

Seperti dikutip dari Energia News di pertamina.com, Sabtu (05/05/2018), pada pengunjung booth Pertamina, Adi Kustanto selaku Komersial PHI memberikan informasi mengenai sejarah berdirinya PHI, tujuan terbentuknya PHI, produk-produknya, hingga tantangan dan peluang yang dimiliki PHI untuk mencapai visi misi perusahaan.

"Bisnis ini memiliki tantangan tersendiri. Kami selalu melakukan eksplorasi, perkembangan, fasilitas produk, memperhatikan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security, Environment), komersil, finansial dan teknologi informasi yang mempuni," kata Adi Kustanto di depan mahasiswa Universitas Padjajaran yang berkunjung ke booth Pertamina.

Adi menjelaskan, PHI memiliki aset SDM dengan pengalaman, sistem dan kinerja kelas dunia. Dengan dukungan seluruh pihak, PHI dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia khususnya bagian Timur.

“Kami melakukan alignment di semua aspek, termasuk standardisasi, SDM, prosedur dan kemitraan strategis lainnya yang berdampak pada kinerja produksi dan efisiensi biaya operasi dan produksi," jelasnya.

Sementara itu, Public Goverment Affair & Relation Manager PEPC Kunadi memaparkan tentang produksi vs konsumsi minyak nasional di depan mahasiswa Universitas Pertamina. Seperti diketahui, Indonesia merupakan importir BBM di dunia.

“Jika kita tidak melakukan langkah-langkah serius, maka akan menjadi importir BBM terbesar. Kondisi global harga minyak belum membaik, dan diperkirakan akan berkisar 60 dolar AS dalam tahun-tahun mendatang. Akibatnya penerimaan negara sektor Migas turun dalam tiga tahun terakhir, dari 2014 Rp 320 triliun dan saat ini menjadi sekitar Rp 110 triliun per tahun," ungkapnya.

Karena itu ia mengimbau mahasiswa sebagai penerus bangsa untuk hemat energi serta belajar sungguh-sungguh hingga bisa mengembaangkan energi baru terbarukan untuk kebutuhan masa depan.

"BBM menjadi produk Migas yang tidak dapat diperbarui. Jika digunakan terus menerus lama kelamaan habis. Ini tugas generasi mendatang untuk hemat energi dan berusaha menemukan energi baru terbarukan," katanya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar