Kenalkan Start-up Digital, Kampanyekan Digital Paradise

[caption id="attachment_2817" align="aligncenter" width="800"]potensi start-up digital Lis Sutjiati (kiri), bersama Donald Wihardja (tengah) dan Ridzki Syahputera (kanan) saat Konferensi Pers 1st NextICorn International Summit, di Jakarta, Jumat (04/05/2018). FOTO: KOMINFO.GO.ID[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Berupaya mengenalkan potensi start-up digital atau perusahaan rintisan kepada investor global, maka digelar forum The 1st NextICorn International Summit pada 09 Mei 2018 hingga 10 Mei 2018 mendatang di Nusa Dua, Bali. Sejumlah start-up digital Indonesia akan diperkenalkan dalam ajang tersebut.

“Kita perkenalkan Indonesia itu sebagai digital paradise, tempatnya bukan cuma bagus tapi government-nya juga sangat welcoming untuk digital initiative. Masyarakatnya juga sudah matang secara global, mahir pakai fintech, aplikasi, sehingga dapat menciptakan unicorn yang statusnya didapat hanya dengan mengaddress customer di Indonesia,” kata Chief Coordinator of NextICorn Promotion Roadshow Calendar, Donald Wihardja saat Konferensi Pers di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jumat (04/05/2018).

Seperti dikutip dari Siaran Pers Biro Humas Kementerian Kominfo di kominfo.go.id, Jumat (04/04/2018), The 1st NextICorn International Summit yang akan digelar di Bali Nusa Dua Convention Centre ini juga menjadi salah satu solusi Pemerintah Republik Indonesia atas beberapa permasalahan yang dialami start-up digital.

"Terutama mereka yang berada di Zona Missing Middle atau Series B. Para start-up umumnya mendapat pendanaan di awal, biasa disebut Series Pre-A atau Series A, namun kesulitan dalam mendapatkan pendanaan berikutnya. Melalui NextICorn, kami membantu menjembatani mereka yang sudah sampai di titik ini, yang memang susah mendapat pendanaan,” papar Donald.

Hingga menjelang perhelatan The 1st NextICorn International Summit, sebanyak 70 start-up telah dikurasi berdasarkan kesiapan dalam aspek pendanaan. Proses kurasi dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Global Consulting Ernst & Young. Tujuan kurasi untuk membantu start-up menyusun resume singkat dalam satu halaman mengenai gambaran serta model bisnis.

"Kita telah susun compendium atau booklet yang berisi informasi tentang start-up tersebut sesuai dengan standar kebutuhan investor. Informasi yang disusun dalam compedium tersebut di antaranya model bisnis, kategori, proses, perkembangan terakhir start up tersebut, keadaan keuangan, serta potensi ke depannya," jelas Deputy to the Chairman for NextICorn Strategy Formulation Coordination Lis Sutjiati.

Menurut Lis Sutjiati, dengan kriteria yang telah ditentukan akan dapat diketahu kelas atau tahapan pendanaan masing-masing start-up. “Untuk masuk program ini bukan hanya karena bagus. Start-up ini akan diminta mengisi berbagai kriteria yang dibutuhkan untuk melakukan assessment oleh EY. Kita bikinin compedium, semacam bookletnya. Nanti akan ketahuan kelasnya. Jadi nanti mereka tidak semuanya berada di tahapan yang sama,” lanjut Lis Sutjiati.

Beberapa bidang start-up yang akan terlibat dalam 1st NextICorn International Summit antara lain fintech landing; fintech payment, bidang e-commerce; enabler serta bidang pendidikan. "Kegiatan ini merupakan langkah awal, selanjutnya akan berlangsung kegiatan sejenis untuk mendorong pendanaan start-up digital lain mampu bertumbuh jadi unicorn," jelas Lis Sutjiati.

Program NextICorn melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bank Indonesia, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar