Kemenperin Galakkan Santripreneur di Ponpes Lirboyo Kediri

[caption id="attachment_2797" align="aligncenter" width="800"]program santripreneur Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) melakukan kegiatan Bimbingan Teknis di Ponpes Hidayatulah Mubtadiin Lirboyo, Kota Kediri, Jumat (04/05/2018). FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR[/caption]

KEDIRI-SUREPLUS: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI gencar menjalankan program santripreneur, sebagai upaya menumbuhkan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di pondok pesantren.

Kini Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) melakukan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Pondok Pesantren Hidayatulah Mubtadiin Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (04/05/2018).

Menurut Direktur Jenderal IKM Kemenperin RI, Gati Wibawaningsih, acara Bimtek ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan fasilitasi mesin atau peralatan pengolahan limbah plastik kepada Ponpes Hidayatulah Mubtadiin Lirboyo Kota Kediri yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

"Jadi ini merupakan kegiatan terintegrasi sehingga nantinya diharapkan para santri yang dilatih langsung dapat mengolah limbah plastik menjadi barang yang bernilai ekonomi," kata Gati Wibawaningsih, saat memberikan sambutan pada pelaksanaan Bimtek di Ponpes Hidayatulah Mubtadiin Lirboyo Kota Kediri, Jumat (04/05/2018).

Dia menjelaskan, kegiatan yang berlangsung lima hari dari 30 April sampai dengan 4 Mei 2018, tampak diikuti peserta sebanyak 20 orang santri. Dalam bimtek tersebut tak hanya diajarkan tentang pengolahan limbah plastik, tapi juga diajarkan pembuatan pupuk organik dari limbah organik.

"Kami sangat yakin dengan waktu lima hari ini, para peserta sudah dapat menguasai ilmu yang diberikan oleh para instruktur. Kami berharap agar ilmu itu dapat diterapkan sehingga akan menjadi awal kebangkitan usaha para santri di ponpes ini," ujarnya.

Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan, Kemenperin RI, Ratna Utarianingrum, mengatakan, Program Santripreneur merupakan wadah untuk menjembatani santri yang berwirausaha maupun pengusaha muslim dalam mengembangkan usahanya untuk lebih inovatif dan berdaya saing.

"Kalau saja para santri ini bisa melakukan kegiatan ini secara berkelanjutan, tak hanya bisa menambah penghasilan, tapi juga akan menjadi pahlawan dalam mengatasi masalah sampah, terutama sampah plastik yang selama ini terus menjadi permasalahan kita semua," tuturnya.

Dia meyakini, melalui Program Santripreneur, para santri baru dibimbing dan didorong untuk meningkatkan kemampuannya dalam berwirausaha terutama melalui peningkatan etos kerja, kreativitas dan inovasi.

"Selain itu, juga menambah produktivitas, kemampuan membuat keputusan dan mengambil risiko, serta kerja sama yang saling menguntungkan dan menerapkan etika bisnis," katanya.

Berdasarkan data dari Kementerian Agama Tahun 2014-2015, lanjut dia, jumlah pondok pesantren di Indonesia tersebar di seluruh provinsi diperkirakan sebanyak 28.961 dengan total santri sekitar hampir 4.028.660 santri.

Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang cukup besar, Kemenperin RI memandang pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru dan Pengembangan Unit Industri di lingkungan pondok pesantren.

Hingga kini, Program Santripreneur telah dilaksanakan di Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan dan Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Oleh karenanya, seiring pelaksanaan Program Santripreneur yang telah berjalan, Kemenperin RI memiliki dua model penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di pondok pesantren, yaitu model Santri Berindustri dan Santri Berkreasi. (AYU CITRA SR/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar