Hasil Survei, Optimisme Konsumen Menguat pada April 2018

[caption id="attachment_2773" align="aligncenter" width="800"]Survei Konsumen Bank Indonesia Tampak aktivitas perdagangan di salah satu mall di Surabaya. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya optimisme konsumen yang menguat pada April 2018. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya optimisme konsumen yang menguat pada April 2018, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2018 yang meningkat 0,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 122,2.

Seperti dikutip dari Departemen Komunikasi BI di situs bi.go.id, Jumat (04/05/2018), peningkatan optimisme konsumen tersebut didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan, dan terjaganya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Kenaikan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) terutama ditopang oleh meningkatnya ekspektasi kegiatan dunia usaha pada enam bulan yang akan datang. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat stabil, didukung oleh membaiknya penghasilan konsumen saat ini dan tetap kuatnya pembelian barang tahan lama.

Hasil survei juga mengindikasikan menurunnya tekanan harga tiga bulan mendatang (Juli 2018). Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang sebesar 183,6, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 184,4. Ekspektasi menurunnya tekanan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh kembali normalnya permintaan barang dan jasa pasca Idul Fitri.

Sebelumnya dikatakan pula, Bank Indonesia (BI) mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo dalam acara pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) tahun 2018, pada Rabu (02/05/2018) di Semarang.

Dikutip dari situs BI, untuk pengembangan tersebut, BI menyusun blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berlandaskan pada tiga fokus strategi utama, yaitu Pilar pemberdayaan ekonomi syariah, Pilar pendalaman pasar keuangan syariah dan Pilar riset, asesmen, dan edukasi ekonomi dan keuangan syariah.

Pengembangan ekonomi pesantren, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) syariah, maupun industri halal dimaknai sebagai suatu ekosistem yang utuh dalam local halal value chain (rantai nilai halal daerah) dengan memanfaatkan kearifan lokal masing-masing daerah untuk mengoptimalkan potensi ekonomi syariah regional. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar