Raup Puluhan Juta dari Kerajinan Glass Painting

glass painting
Atika Baswedan meraup pundi-pundi jutaan rupiah dari kerajinan glass painting dengan bahan dasar kepingan kaca yang tak terpakai. FOTO: SUREPLUS/RAHMAD SURYADI

SURABAYA-SUREPLUS: Berawal untuk sekedar mengisi waktu luang, kini Atika Baswedan meraup pundi-pundi jutaan rupiah dari kerajinan glass painting dengan bahan dasar kepingan kaca yang tak terpakai.

Owner UKM Carnadia ini menceritakan awal mula ia merintis usaha kreatifnya tersebut. Mulanya ketika sang kakak meminta dirinya untuk menghias koleksi barang antik dari kaca polos, “Saat itu saya hanya bantu-bantu kakak, kebetulan kakak juga punya usaha kaca dan barang antik,” ujarnya pada Sureplus.id, Minggu (13/05/2018) siang.

Sejak itu Atika langsung berguru selama dua minggu pada seorang teman yang sudah lama berkecimpung di dunia kerajinan glass painting. Sembari belajar, Atika mulai praktik menghias berbagai kepingan kaca bekas dari galeri sang kakak. Mulai dari botol, kendi hingga toples kaca.

Butuh waktu setahun bagi Atika untuk membuka showroom sendiri. Alasannya, ia ingin benar-benar mahir sebelum benar-benar terjun di dunia yang baru ia geluti. Sebab, Atika meyakini, tanpa perhitungan matang dan kemampuan mumpuni di bidang ini, bisnisnya tak akan berjalan maksimal.

Setelah merasa mampu, dengan bermodalkan Rp 5 juta dan dibantu oleh kedua orang karyawannya, Atika pun memberanikan diri untuk membuka showroom yang ia beri nama Carnadia Gallery. Showroom itu terletak di kawasan Perumahan Galaxi Bumi Permai, Surabaya.

“Saya tak mau asal dalam membangun usaha. Saya tidak hanya ingin mampu memproduksinya, tapi juga harus bisa mengelola keuangannya. Karena itu, tahun berikutnya barulah saya berani membuka Galeri ini,” ungkapnya.

Atika pun menjelaskan bagaimana cara membuat glass paintingnya itu. Semisal pembuatan dari botol bekas, yang pertama botol-botol harus dicuci bersih dulu sampai kering. Berikutnya dilanjutkan dengan proses penyemprotan dengan cat, dan botol dikeringkan lagi. Untuk proses pengeringan butuh waktu sekitar 45 menit.

“Setelah semua tahap itu terlewati, barulah proses pembuatan motifnya. Biasanya saya memakai selotip untuk membentuk motifnya,” paparnya.

Atika mengatakan, semua botol wine atau parfum yang ia gunakan merupakan botol bekas. Untuk botol wine cukup beragam model dan tipenya. Kalau yang tutupnya orisinil dari kaca, harganya Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per botol. Setelah diberi lukisan bisa laku ratusan ribu,” beber Atika.

Ekspor ke Mancanegara

Harga kaca lukis milik Atika sangat bervariasi, tergantung jenis dan kualitas bahan yang ia pakai. Bahkan harganya bakal lebih melambung tinggi jika bahannya ia datangkan langsung dari luar negeri alias impor.

“Sebenarnya juga tergantung pada kelangkaan atau keunikan bahan, serta tingkat kerumitan lukisan,” papar ibu dua anak ini.

Sampai sekarang Atika lebih suka mempromosikan karyanya lewat pameran ke pameran. Even yang rutin ia ikuti adalah Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) yang berlangsung tiap tahun.

Dari pameran di ibukota itulah yang membuka pasar Carnadia ke mancanegara, yaitu China, India dan Jerman. Maklum, pengunjung Inacraft dari luar negeri lumayan banyak.

“Orang India suka beli kendi, kalau Bu Nina Soekarwo, istri Gubernur Jatim (Soekarwo), pernah ambil beberapa vas bunga ukuran besar. Produk saya juga pernah dibawa pameran sama teman ke Thailand, laris juga. Tapi dia tidak berani bawa barang banyak, soalnya agak repot,” pungkasnya.(RAHMAD SURYADI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas