Produk Manufaktur RI Ekspor Direct Call ke AS

sistem pelayaran langsung peti kemas
Presiden Joko Widodo dan Menperin Airlangga Hartarto saat acara pelepasan ekspor komoditas non-migas Indonesia dari Jakarta menuju Los Angeles di Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT). FOTO: KEMENPERIN.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Sejumlah produk industri manufaktur Indonesia diekspor secara direct call ke Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan kapal kontainer berukuran besar. Direct call adalah sistem pelayaran langsung peti kemas dari pelabuhan domestik ke pelabuhan tujuan di luar negeri tanpa singgah di pelabuhan mana pun.

“Pengiriman ini bisa lebih cepat sampai sehingga akan mendorong peningkatan daya saing produk kita di Amerika Serikat,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto usai acara pelepasan ekspor komoditas non-migas Indonesia dari Jakarta menuju Los Angeles yang diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo di Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT), Selasa (15/05/2018).

Seperti dikutip dari Siaran Pers Kemenperin di kemenperin.go.id, Rabu (16/05/2018), turut mendampingi Presiden Jokowi yakni Menperin Airlangga, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita serta Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya.

Airlangga menjelaskan, pengiriman komoditas melalui rute langsung tersebut dapat lebih efisien dan memangkas biaya logistik hingga 20 persen. “Jadi, lebih murah sekitar 300 dolar AS tiap kontainer, dibandingkan jika dengan perjalanan melalui Singapura,” ujarnya.

Selain itu, mampu menghemat waktu pengiriman barang. “Kalau lewat Singapura, shipping time-nya kira-kira sampai 31 hari. Sedangkan, dengan direct call ini hanya 23 hari sehingga membantu time to market lebih cepat,” imbuhnya.

Dari 32 industri manufaktur di dalam negeri yang terlibat dalam pengiriman via kapal raksasa tersebut, total nilai ekspornya mencapai 11,98 Juta dolar AS. Produk non-migas ini meliputi alas kaki sebesar 50 persen, produk garmen (15 persen), produk karet, ban dan turunannya (10 persen), produk elektronik (10 persen), serta produk lainnya seperti kertas, ikan beku dan suku cadang kendaraan (15 persen).

Perusahaan pengekspor itu, antara lain Buma Apparel Industry, Nikomas Gemilang, Parkland World Indonesia, Mattel Indonesia, Dilmoni Citra Mebel Indonesia, Gajah Tunggal, Multistrada Arah Sarana, Indonesia Epson Industry, dan Samsung Electronics Indonesia. Selanjutnya, Komatsu Undercarriage Indonesia, Koyorad Jaya Indonesia, Maxindo Karya Anugerah, dan Indo Porcelain.

“Seluruhnya produk manufaktur, bukan komoditas mentah,” tegas Menperin. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk terus mengoptimalkan nilai tambah produk dalam negeri serta memacu devisa negara melalui peningkatan ekspor. Kegiatan ini menunjukkan pula bahwa iklim usaha di Indonesia berjalan baik yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Komoditas non-migas yang diekspor tersebut diangkut menggunakan Kapal CMA CGM Tage, memiliki kapasitas mencapai 10.000 twenty-foot equivalent units (TEUs). Kapal berbobot sebesar 95.263 gross tonnage (GT) dan berukuran panjang hingga 300 meter ini merupakan satu dari beberapa kapal raksasa yang kini secara rutin berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

“Pengiriman sekarang ini sebanyak 4.300 TEUs. Ke depannya, kami akan terus dorong untuk semakin bertambah,” ucap Airlangga.

Untuk itu, pemerintah tengah berupaya untuk membuat perjanjian dagang khusus dengan Amerika Serikat. “Karena, 40 persen muatan kapal tersebut masih kena bea masuk 10-20 persen,” lanjutnya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P