Olahan Sambel Botol Plastik Ini Beromset Puluhan Juta Per Bulan

Tak ingin berpangku tangan untuk menghabiskan masa pensiunnya, Susilaningsih merintis usaha sambal yang ia beri nama Dede Satoe. FOTO: SUREPLUS/RAHMAD SURYADI

SURABAYA-SUREPLUS: Menjadi seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di Pemprov Jawa Timur, membuat Susilaningsih mencari ide untuk membuka wirausaha yang sesuai dengan hobinya, yakni memasak.

Tak ingin berpangku tangan untuk menghabiskan masa pensiunnya, Susi mulai merintis usaha sambal yang ia beri nama Dede Satoe. “Kata anak-anak, masakan saya enak. Maka saya coba-coba bikin usaha,” ujar Susi pada Sureplus.id, Sabtu (12/05/2018) pagi.

Dari sekian banyak jenis masakan, Susi menjatuhkan pilihan pada sambal. Alasannya, karena orang Indonesia gemar menyantap makanakan berasa pedas tersebut. Apalagi cabai sebagai bahan baku utama sambal juga sangat mudah didapat di Jawa Timur.

”Paling enak cabai rawit merah cakra atau patalan, dan cabai cangkring. Pedas sekali dan bentuknya bagus,” ungkap pensiunan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jatim ini.

Ia pun mulai mencoba memproduksi sambal dalam kemasan botol plastik. Produk perdananya itu, lalu ia titipkan di toko-toko dekat rumah. Tak disangka, produk sambal Dede Satoe buatannya disukai banyak konsumen.

”Dari situ saya tergerak memasarkan sambal saya lebih luas,” harapnya.

Bersamaan dengan itu, Susi berusaha membekali produk sambalnya dengan izin dari pihak terkait, salah satunya yakni Dinas Kesehatan dan Perdagangan. Hal itu ia lakukan agar produknya mendapatkan sertfikat kandungan gizi.

“Kebetulan waktu itu ada pengusaha dari Singapura yang tertarik dan mau memasarkan produk saya ini di sana. Hanya saja, dia ingin sambal ini dilengkapi label takaran nilai gizi seperti produk makanan pada umumnya. Sayang prosesnya cukup lama sehingga peluang itu hilang,” keluhnya.

Tak hanya itu, Susi juga telah menguji ketahanan produk sambalnya. Ternyata, meski tanpa pengawet dan vetsin, sambal buatannya aman dikonsumsi hingga 1,5 tahun. Kuncinya yakni terletak pada cara memasak dan kemasannya. “Segel penutupnya harus benar-benar rapat,” tandasnya.

Jika awalnya Susi hanya memproduksi satu jenis sambal, kini produknya sudah hadir dalam 11 variasi, antara lain sambal ikan teri, sambal ikan peda, sambal ikan jambal roti, sambal pecel, dan sambal sereh.

Untuk pemasarannya sendiri, selain di dalam negeri, produk sambal yang telah mengantongi omzet Rp 35-Rp 50 juta per bulan ini juga menembus pasar luar negeri macam Seoul (Korea Selata) dan China.

Selain sambal, produk sambal Dede Satoe juga mengembangkan varian produk lainnya seperti sambal goreng kentang ebi, udang crispy, bumbu rawon, bumbu soto ayam dan daging, bumbu pecel, manisan belimbing wuluh dan cheese stick.

Bahkan, berbekal resep warisan neneknya, Susi membuat sabun cair untuk mencuci kain batik dengan bahan dasar buah lerak.(RAHMAD SURYADI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas