UMK Tinggi Banyak Perajin Songkok Beralih Kerja di Pabrik

kerajinan songkok
Suasana pekerja di perusahaan kerajinan songkok (kopiah) milik H. Husnul Maarif di Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Gresik. FOTO; SUREPLUS/SAHLUL FAHMI

GRESIK-SUREPLUS: Bulan Ramadan boleh dibilang menjadi bulan panen bagi pengusaha busana muslim, tak terkecuali bagi pengusaha kerajinan songkok (kopiah). Namun bagi H. Husnul Maarif, salah satu perajin songkok asal Desa Bungah, Gresik justru menolak banyaknya pesanan yang masuk.

Penyebabnya adalah semakin berkurangnya tenaga kerja yang dimilikinya. Hal itu disebabkan karena banyak pekerjanya yang kini lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik yang tersebar di wilayah Kabupaten Gresik.

Bisa dimaklumi karena sesuai peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Timur Nomor 75 Tahun 2018 yang ditandatangani oleh Soekarwo bahwa UMK di Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 8,71 persen. Kenaikan ini membuat UMK di Gresik kini mencapai Rp 3.580.370,64

Tak heran, jika dengan besaran tersebut banyak pekerja di perusahaan kerajinan songkok milik H. Husnul Maarif yang hengkang ke pabrik. “Kalau usaha saya ini kan kelasnya industri rumahan, jadi sangat berat kalau menerapkan UMK yang diberlakukan pemerintah,” ucap Haji Arif, sapaan akrab Husnul Arif.

Haji Arif mengungkapkan jika pekerjanya masih banyak seperti dulu, dalam sehari dirinya bisa memproduksi songkok polos sebanyak 20 kodi. Namun dengan kondisi sekarang, untuk memproduksi 10 kodi per hari saja rasanya sulit.

Sejauh ini para pelanggan songkok produksinya berasal dari beberapa kota di Jawa Tengah seperti Kudus, Semarang serta Yogyakarta. “Ramadan permintaan songkok pasti meningkat. Tapi terpaksa saya banyak menolak pesanan karena tidak bisa memenuhi tuntutan produksi,” ujar Haji Arif kepada Sureplus.id, Sabtu (12/5/2018).(SAHLUL/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas