RESENSI BUKU

Dunia Datar, Aturan Belum Kelar

Judul buku: Rules for a Flat World
Penulis : Gillian K Hadfield
Penerbit : Oxford University Press, Inggris
Tebal : xii + 413 halaman
Cetakan : Pertama, 2017

Oleh Rosdiansyah

SEJAK Thomas Friedman menerbitkan buku ‘The World is Flat’ (2005), publik internasional khususnya kalangan akademisi bergairah membincang ihwal dampak globalisasi. Buku karya Friedman itu memang berbicara seputar globalisasi yang tak mungkin dihindari. Ketika terjadi interaksi kian intensif antar warga dunia, bahkan korporasi multi-nasional semakin ekspansif. Situasi ini bukan cuma tanpa batas, namun sudah saling terkait. Aturan yang disepakati sejumlah CEO dalam pertemuan ekonomi dan bisnis tingkat dunia misalnya, bisa berdampak pada prioritas program pemerintah di suatu negara terhadap upaya penumbuhan bisnis kelas kecil-menengah. Dunia yang datar (flat) merupakan dunia yang kian sangar. Ramah bagi ekonomi global, belum tentu akrab untuk pebisnis kecil-menengah.

Buku ini karya Gillian Hadfield, gurubesar ekonomi Universitas Kalifornia Selatan. Berisi 14 bab yang terpisah dalam tiga bagian. Di awal buku, penulis menegaskan dua fenomena penting dalam dunia datar. Bukan saja globalisasi, melainkan juga perkembangan teknologi. Globalisasi memupus batas, teknologi mempercepat pertalian antar komunitas. Pertemuan kemudian pertalian yang bisa saling mempengaruhi, bahkan bisa pula satu mendominasi yang lain. Percepatan informasi melalui teknologi yang terus berkembang telah menjadikan warga dunia mulai dari yang tinggal di perkotaan serba modern, sampai di wilayah pelosok, mudah mengakses sumber-sumber utama informasi tersebut. Gillian benar-benar cermat melihat berbagai perubahan dan perkembangan itu, sekaligus ia mengevaluasi kedua hal tersebut. Dampak globalisasi tentu bukan cuma pada mereka yang peduli pada jejaring saling terkait, namun dampak itu juga dihadapi masyarakat yang belum atau kurang peduli pada jejaring.

Lanskap perubahan sudah berubah. Semula para penjelajah harus mencari wilayah baru selama bertahun-tahun, namun kini tak lagi ada wilayah kosong dari intervensi para penjelajah. Pergeseran wilayah berlangsung di bawah kaki kita. Teknologi dan globalisasi terus mencabut dan membentuk kembali kehidupan sehari-hari dan ekonomi. Mata rantai pasokan global tumbuh dengan akar lebih dalam tertanam di setiap wilayah di dunia. Mimbar digital menghubungkan miliaran sambungan di planet ini dalam jaringan yang lebih kompleks, lalu-lintas data dan pertukaran yang tiada henti. Fenomena ini tak mungkin diabaikan, apalagi ditolak, sebab pengaruh perkembangan global sudah sampai ke ranah yang paling kecil, yakni keluarga. Aneka kebutuhan kita bukan lagi dipasok oleh produsen di sekitar kita, melainkan produsen tersebut berlokasi ribuan kilometer dari tempat kita tinggal. Aturan dalam keseharian kita, warisan dari nenek moyang, kini menghadapi gempuran terus-menerus. Jika kita bersikap protektif, maka kita akan mudah dituding mengidap sindrom xenofobia (anti-asing). Sebaliknya, jika bersikap terbuka, bisa dipastikan bakal terjadi perbenturan norma dan nilai tiada henti.

Semangat penulis dalam merinci aneka perubahan global sangat terasa sejak halaman awal buku. Ketika menunjukkan berbagai perusahaan baru yang mempercepat proses perubahan itu, penulis juga menyinggung betapa praktek kendaraan Uber telah mengubah warga-warga di Indonesia bahkan penduduk London bisa menjadi pengusaha mikro (micropreneurs). Percepatan perubahan ini tampak dari kehadiran beragam perusahaan unik yang belum ada sekitar satu dasawarsa sebelumnya, malah kehadiran Uber dan sejenisnya memperlihatkan percepatan yang meningkat. Perusahaan-perusahaan itu muncul untuk memenuhi kebutuhan manusia yang kian ingin praktis dan cepat tanpa perlu repot-repot lagi. Aturan lama yang seolah-olah mensyaratkan perlunya perusahaan mapan untuk memperluas diversifikasi bisnis, kini proses itu sudah bisa berlangsung tanpa disertai kerumitan-kerumitan serta persyaratan ketat lagi.

Perusahaan menciptakan berbagai aturan demi kelancara bisnis serta interaksi antar perusahaan. Aturan ini sudah setua usia manusia. Kehadiran perusahaan bukan fenomena baru, sebab ia sudah hadir ketika interaksi antar manusia kian meningkat, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan. Aturan dalam perusahaan serta aturan dalam bisnis terus mengalami perkembangan sejalan dengan interaksi serta dinamika manusia yang meningkat tajam. Penulis buku ini menyebut dua hal yang secara nyata menunjukkan betapa aturan dalam bisnis sangat penting. Pertama adalah dalam dunia entertain, ketika kesenangan menjadi bisnis dan ditawarkan kepada para konsumen, maka seperangkat aturan pun dibuat. Salah-satu kegunaan dari aturan semacam itu adalah pada memenuhi kepastian dalam interasi antara produsen dan konsumen. Kedua adalah dalam dunia olah-raga. Seperti halnya bisnis kesenangan, bisnis olah-raga ini juga berusia sangat tua. Ketika manusia melihat olah-raga sebagai peluang untuk berkompetisi, maka dimulailah olah-raga sebagai bisnis, selain tentunya juga olah-raga sebagai hiburan.

Bagi para pemikir ekonomi garda-depan, soal dunia datar ini bukan cuma perkara bentuk geometris, melainkan lebih dari itu. Ia adalah salah satu kemungkinan yang luar biasa, tetapi juga menimbulkan tantangan baru untuk stabilitas dan kemakmuran bersama. Datar dalam hal ini tidak bisa dipahami denotatif lazimnya bentuk geometris, namun datar dalam kaitan ini perlu dimengerti sebagai interaksi, dan saling keterkaitan satu sama lain secara cepat dan tepat. Bagaimana kita akan menghadapi aturan-aturan baru. Datar dalam hal ini juga membuat kita perlu memastikan bahwa kita terus berinovasi dan berkembang. Tetapi kita juga wajib menjadi lebih adil, dan masuk ke dalam komunitas global. Dengan harapan, di dalam dunia yang datar itu situasi jadi lebih aman. Paparan rinci dari pakar hukum dan ekonomi Gillian K. Hadfield ini segera saja menggeser buku Friedman. Sebab, buku ini menyodorkan kupasan baru lapisan teknologi untuk melihat sistem aturan yang memandu integrasi global. Ditegaskannya, aturan-aturan lama terlalu lambat mengantisipasi perubahan. Selain itu, aturan-aturan itu bukan hanya terlalu lambat, mahal, dan terlalu lokal bagi negara maju semakin kompleks. Yang perlu dipikirkan adalah cara-cara pendekatan lintas negara yang bebas dari kecurigaan, dengan semangat sama, yakni merumuskan ulang aturan yang adil untuk semua.***

(Rosdiansyah, peresensi adalah peneliti pada The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP, Surabaya)