Tarian Remo Girah Pikat Masyarakat Kediri

[caption id="attachment_1903" align="aligncenter" width="800"]Pawai budaya Nusantara Tari Remo Girah Penampilan santri yang mempersembahkan Tari Remo Girah tampak memukau mata pengunjung.FOTO:SUREPLUS/AYU CITRA SR[/caption]

KEDIRI-SUREPLUS: Untuk mengenalkan keragaman budaya di Indonesia, sebanyak 3.000 santri Pondok Pesantren Al Falah Kediri menggelar Pawai Budaya Nusantara.

Dari perhelatan ini, penampilan santri yang mempersembahkan Tari Remo Girah tampak memukau mata pengunjung. Hal itu karena penampilan para penari melalui tarian tersebut, terlihat apik dan menunjukkan kekompakan.

Menurut KH. Nurul Huda Djazuli, selaku pengasuh Ponpes Al-Falah, berlangsungnya kegiatan ini untuk memperkenalkan kebudayaan Nusantara kepada santri. Mereka tak hanya dituntut untuk pandai mengaji, santri juga harus memiliki kreativitas dalam berbagai hal.

"Kalau Tari Remo Girah ini, merupakan sebuah kesenian Tari Penyambutan yang berasal dari Jawa Timur," ujar KH. Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Ponpes Al-Falah Kediri, di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (16/4/2018).

Tarian tersebut sengaja disajikan, guna menceritakan perjuangan seorang pangeran di medan laga. Pada kesempatan inilah, gerakan Tari Remo Girah ini ditata dengan sangat elok. Bahkan disesuaikan dengan kebutuhan sebuah karya dari seorang koreografer asal Desa Girah/Gurah.

"Pertunjukan Tari Remo Girah ini karya Lina Candra Sari, lulusan ISI Yogyakarta," katanya.

Di lokasi ini, juga ditampilkan kebudayaan masyarakat Betawi, Jakarta. Ada pula santri yang mempertontonkan kebolehannya di bidang  kesenian silat. Kemudian disusul Tari Piring dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Selain itu, tampak pula santri yang menyuguhkan tari jaranan khas Kediri. Secara umum, pada  momentum ini para santri tak hanya memakai pakaian adat saja. Namun juga menampilkan seni kebudayaan dari daerah asal mereka di hadapan para masayyih dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan yang sama, Gus Dah, yang tak lain kakak kandung KH. Zainudin Djazuli, Ponpes Al Falah, melanjutkan, meskipun Ponpes Al-Falah sendiri adalah pondok salafiyah yang tua, tapi pengelolanta tidak merasa tabu dengan kesenian.

Akan tetapi, para pengasuh ponpes ini mengajak seluruh santrinya terus mendukung pelestarian budaya di Tanah Air. Langkah ini sekaligus upaya untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari berbagai suku dan budaya.(Ayu Citra SR/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz

Posting Komentar

0 Komentar