Tak Henti Berkreasi, Siti Suguhkan Batik Jumputan

[caption id="attachment_1639" align="aligncenter" width="800"]Pesona batik Siti Ma’rifah (kiri), owner Wilis and Verda dengan beragam kreasi batik jumputan buatannya. Warna-warnaya terlihat segar, pas untuk kalangan muda. FOTO: SUREPLUS/R SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Pesona batik tak pernah sirna. Batik merupakan salah satu kearifan lokal yang patut diberi apresiasi lebih. Apalagi eksistensinya pun kini semakin beraneka ragam. Para inovator pun tak bosan bereksperimen, dengan tidak mengurangi estetika dan keindahan batik itu sendiri.

Sebagaimana dilakukan Siti Ma’rifah, owner Wilis and Verda, salah satu UKM pengrajin batik ikat celup jumputan asli dari Kota Pahlawan, Surabaya. Jenis-jenis batik inovasinya antara lain berupa baju, kemeja, syal dan kain. Arti nama Wilis and Verda sendiri mengandung artian muda dan segar.

Seperti diketahui, batik jumputan merupakan jenis batik yang dikerjakan dengan teknik ikat celup, untuk menciptakan gradasi warna yang menarik. Batik jumput ini tidak ditulis dengan malam seperti kain batik pada umumnya. Tapi kain diikat lalu dicelupkan ke dalam warna.

“Saya memakai brand ini tujuannya agar batik itu kesannya tidak hanya dipakai oleh orang tua saja. Jadi batik saya ini dapat dipakai dari kalangan muda juga,” cerita Siti Ma’rifah ketika menemui Sureplus.id di kediamannya, di kawasan Banyu Urip Wetan Surabaya, Minggu (08/04/2018) sore.

Keunikan batik ini, lanjut Siti, terletak pada bahan dasar dan pemakaian perwarna alami seperti dedaunan dan kayu. Juga memiliki ciri khas di setiap motif ikatannya. Alhasil, bisa menghasilkan warna yang lebih estetik.

“Kalau kebanyakan batik celup itu menggunakan warna kimia, tapi batik saya menggunakan warna herbal, seperti daun tarum, mangga, leci, serbuk kayu mahoni, secang dan tingi,” kata Siti.

Di balik keindahan ragam motif batik Wilis and Verda, terdapat proses yang cukup menyita waktu dan membutuhkan tingkat ketelatenan yang ekstra, agar menghasilkan kualitas jempolan.

Dengan telaten, Siti menceritakan tahap per tahap proses pembuatan batik jumputnya itu. “Kain direbus dengan tawas, biarkan semalaman. Setelah itu, jemur kain sampai mengering lalu barulah proses pewarnaan ikatnya,” tuturnya.

Namun proses pewarnaan bukan sampai pada tahap perebusan dan jumputan kainnya saja. Proses pembuatan warna pun tak kalah lama dan rumit. “Belum lagi bikin warna dari tanamannya. Kira-kira pembuatan satu kain itu bisa mencapai tiga mingguan. Tergantung waktu dan cuaca juga,” kata perempuan berusia 44 tahun ini.

Maka tak heran batik yang dikelola Siti mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. Dikarenakan proses pembuatannya yang relatif lama dan mempunyai tingkat kesulitan lebih tinggi. (R SURYADI/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar