Sang Pelopor Kebangkitan Busana Sulam Jawa Timur

[caption id="attachment_2567" align="aligncenter" width="800"]Baju sulam Siska Sumartono. FOTO: SUREPLUS/RAHMAD SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Baju sulam pernah jaya di masanya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pakaian jenis ini sudah jarang ditemui. Bahkan di mata kalangan muda-mudi sudah mulai ditinggalkan.

Di saat itu terjadi, di tangan Siska Sumartono pakaian sulam menemukan tren-nya kembali. Tak sekadar mulai digemari, baju sulam berubah menjadi busana eksklusif nan elegan. Ini tak lepas dari motif dan pilihan bahan yang digunakan oleh Siska.

Soal motif, wajar bila busana sulam ala Siska kembali mendapat apresiasi positif di kalangan masyarakat. Sebab tak asal bikin, siska terus menggali ide dari berbagai sumber. Mulai mengamati flora-fauna di alam, majalah fashion, hingga memelototi gaya desain Net-a-Porter hingga Dolce & Gabbana.

“Saya lihat mana saja karya desainer luar negeri yang bisa diadaptasi dengan karakter Indonesia. Produk fashion kan harus selalu berkembang agar digemari anak muda,” katanya.

Dengan label Sari Ronche, perempuan kelahiran Surabaya tahun 1970 ini fokus memproduksi baju berhias sulam benang, serta aneka craft macam sapu tangan, bros, maupun tas. Di rumah sekaligus workshop yang terletak di Jl Karangmenjangan VIII/4 Surabaya, setiap hari Siska menuangkan ide-ide kreatifnya yang berbuah baju eksklusif dan elegan.

Pelanggannya adalah kaum hawa dari kalangan menengah ke atas. Beberapa pesohor yang pernah mengenakan baju buatannya antara lain desainer ibukota Anne Avantie, Dirjen Industri Kecil dan Menengah Euis Saedah, serta istri mantan ketua DPR RI Setya Novanto.

Mereka tertarik baju-baju Sari Ronche setelah melihatnya di ajang Indonesia Fashion Week 2012 di Jakarta. “Waktu itu saya bawa 100 potong baju sulam, saya siapkan enam bulan sebelumnya. Tak disangka dapat sambutan luar biasa,” tutur perempuan bernama lengkap Fransiska Romanna Dwi Enny Kusumawati ini.

Dibantu sembilan pekerja, semuanya ibu rumah tangga warga sekitar tempat tinggalnya, dalam sebulan Siska mampu menghasilkan 100 potong baju sulam sederhana. Bila desainnya rumit dan eksklusif, pengerjaannya lebih lama lagi. Baju-baju itu dihargai Rp 300 ribu sampai Rp 6 juta, sedangkan untuk craft rata-rata dilepas dengan harga Rp 50 ribu.

Siska tak menampik anggapan baju bikinannya relatif mahal.Bisa dipahami karena dia membuatnya limited edition. Untuk baju seharga Rp 3 juta ke atas, paling banter dia hanya memproduksi 10 potong. “Itu pun tetap ada perbedaannya, misal desainnya sama tapi warnanya lain. Ya maklumlah, orang-orang menengah ke atas kan tidak suka kalau bajunya dikembari,” paparnya.

Siska menggunakan benang DMC atau Rose 25 untuk membuat hiasan sulam di atas baju atau celana. Manakala butuh gambar yang tebal dan timbul dengan teknik bullion, dia gunakan benang cap Payung. “Pasar saya hampir di seluruh kota di Indonesia, tapi lebih banyak di Jakarta, Jogjakarta dan Bandung. Untuk luar negeri sudah sampai ke China, Singapura serta Belanda,” sebut istri Stefanus Sumartono ini.

Pasar China terbuka setelah Siska menggelar pameran di Guangzhou, September 2013, atas sponsor Semen Indonesia. Masyarakat China yang sudah familiar dengan produk sulam tradisional mereka, ternyata kagum dengan kebaya sulam karya pengurus Persadir (Perkumpulan Pengusaha Bordir) Jatim ini.

Hebatnya, Siska tak mau sekadar mengekor mode yang sedang tren. Pelan namun pasti, Sari Ronche didesain untuk menjadi pionir. Seperti langkah yang dilakukan dengan mengeksplorasi dua warisan budaya yakni batik dan tenun.

Tak jarang dia harus berburu bahan hingga ke pelosok, mulai batik Pekalongan, tenun tradisional di beberapa desa di Jatim, sampai tenun Batak (ulos). Tak berhenti di situ, ide kreatif Siska juga menjamah bahan yang tak biasa.

Sebut saja serat goni yang disulap jadi jas yang kan harus menabrak batas. Kalau yang begitu-begitu saja sudah biasa. Harus ciptakan yang aneh tapi berkualitas,” kata pengusaha rumahan dengan omzet Rp 40 juta per bulan ini.

Memulai usaha tahun 2007 dengan modal Rp 5 juta dan tiga pekerja, Siska berharap rumah sulam Sari Ronche tetap jadi rujukan kaum hawa yang menginginkan busana beda. Di samping itu, ibu Fransiskus Galih Sumartono, Imanuel Gading Sumartono dan Nikolas Ganesya Sumartono ini ingin usahanya langgeng dan bisa diwariskan.

“Kuncinya pada motif dan penempatan gambarnya. Banyak orang bisa menyulam, tapi kalau penempatannya ngawur atau desain bajunya jadul, ya sulit diterima pasar sekarang,” ujar Siska yang belajar menyulam dari sang ibu, Maria Irmiana Suparni.

Siska berkisah, begitu menamatkan pendidikan di STM Pembangunan Surabaya jurusan Teknik Kimia tahun 1990, menyulam masih dia jadikan kegaitan sambilan untuk mengisi waktu luang. Pandangannya mulai bergeser saat menjadi karyawati sebuah perusahaan kosmetik di Surabaya.

Pergaulan dengan kalangan model dan praktisi fashion, salah satunya desainer papan atas Ali Charisma, membuat Siska kian mantap mendalami keahlian menyulam. Awalnya diterapkan di busana yang dikenakan sendiri, lambat laun menyebar ke teman-teman sekantor.

Order pun mulai berdatangan meski promosinya hanya dari mulut ke mulut. “Sampai akhirnya saya putuskan keluar dari pekerjaan dan fokus di usaha ini,” kata pemenang Desain Fesyen Terbaik I pada Gelar Sepatu, Kulit dan Fesyen (SKF) 2015 yang diadakan Kementerian Perindustrian RI ini.

Sari Ronche makin membesar setelah banyak yang suka dengan karya-karya Siska. Ini pula yang mengantarnya berkenalan dengan Semen Indonesia. Suatu ketika, saat pameran di Palangkaraya, Siska duduk bersebelahan dengan karyawan Semen Indonesia yang juga ikut pameran.

Dari obrolan singkat itu, Siska akhirnya menjadi mitra binaan BUMN penghasil semen tersebut.

Ujung-ujungnya dia diajak pameran ke Guangzhou, China. Kini hari-hari Siska juga disibukkan dengan mengisi workshop atau seminar yang digelar Disperindag Jatim ke daerah-daerah sentra garmen. Antara lain ke Madiun, Tulungagung, Trenggalek, dan Surabaya.

“Saya pernah juga mengajar narapipada di lapas Jombang tentang pemanfaatan limbah garmen,” beber penulis buku Trendi dengan Busana Tenun (Kreasi Busana Tenun Nusantara)
ini. (RAHMAD SURYADI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz

Posting Komentar

0 Komentar