Salurkan Hobi, Pemilik Batik Dewi Saraswati Jadi Jutawan

[caption id="attachment_1998" align="aligncenter" width="800"]Bisnis batik Kecintaannya pada batik, serta niatnya untuk melestarikan warisan budaya khusunya Jawa Timur, membuat Putu Sulistiani terjun ke bisnis batik yang menjanjikan. FOTO; SUREPLUS/R SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Kecintaannya pada batik, serta niatnya untuk melestarikan warisan budaya khusunya Jawa Timur, membuat Putu Sulistiani terjun ke bisnis batik yang menjanjikan. Betapa tidak, jika ditekuni dengan serius, modal cekak bisa menghasilkan omset ratusan juta rupiah.

Putu pun menceritakan awal mula bisnisnya tersebut hingga sesukses sekarang. Berawal dari hobi menggambar serta melukis yang ia kuasai, serta rasa penasaran ketika melihat batik-batik cantik peninggalan sang ibu. Akhirnya Putu mencari tau dan belajar bagaimana proses pembuatan batik tersebut dan menekuninya.

“Saya kan hobi menggambar, melukis. Terus saya lihat ada batik peninggalan ibu masih bagus dan cantik-cantik. Nah dari situ saya penasaran bagaimana cara membuat batik,” ujar Putu.

Putu pun akhirnya belajar pada seorang guru yang ada di SMK Negeri 12 Surabaya. Tak hanya itu, ia juga melakukan studi banding ke tempat–tempat pembuatan batik yang ada di berbagai daerah.

“Saya belajar dengan guru yang ada di SMK Negeri 12 Surabaya. Nah setelahnya saya juga belajar ke tempat-tempat lain hingga mengadakan studi banding ke daerah penghasil kain batik. Barulah saya membuat Batik Dewi Saraswati ini,” katanya.

Batik Dewi Saraswati Surabaya ini berdiri pada September 2004 dengan dua orang karyawan. Dengan modal Rp 5 juta rupiah, Putu mengaku bisa menghasilkan 10 lembar kain batik.

“Dengan modal segitu, saya bikin secukupnya saja. Syukur, karya saya bisa diterima oleh masyarakat,” ujar perempuan asal Bali ini.

Putu juga menjelaskan nama batiknya yang diberi nama Batik Dewi Saraswati. Menurutnya, Dewi Saraswati merupakan Dewi Ilmu Pengetahuan. Dimana dewi tersebut mempunya empat tangan, di masing-masing tangan membawa simbol tersendiri yang membuat Putu menamai batiknya dengan nama tersebut.

“Dewi saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan. Tangannya ada empat, masing-masing tangan memebawa sesuatu yang mengilhami saya untuk membawa brand tersebut. karena itu adalah lambang kesempurnaan wanita. Simbol dari keselaran, ilmu, harmoni, religius,” jelasnya.

Dengan batiknya tersebut, Putu ingin melestarikan batik agar anak-anak muda mengerti jika batik adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Tak hanya itu, Putu juga ingin memperkenalkan produk-produk Jawa Timur, khusunya batik khas Jawa Timur.

“Saya ingin agar anak muda sekarang belajar melestarikan batik. Karena batik ini kan warisan budaya bangsa. Dan saya juga ingin memperkenalkan produk-produk Jawa Timur, terutama batiknya,” ujarnya.

Binaan Semen Indonesia

Putu Sulistiani menceritakan awal mula UKM miliknya bergabung dengan PT. Semen Indonesia ketika Direkturnya Dwi Sucipto. Waktu itu, istri dari Dwi Sucipto hampir setiap minggu datang ke toko batik Dewi Saraswati. Putu bercerita jika istri Direktur PT. Semen Indonesia itu adalah seorang penggemar batik. Dari situlah Putu diajak bergabung untuk menjadi UKM binaan Semen Indonesia.

“Saya bergabung dengan PT. Semen Indonesia waktu direkturnya pak Dwi Sucipto. Nah, istrinya itu kan penggemar batik, hampir tiap minggu beliau ke sini untuk membeli batik koleksi terbaru. Beliau juga kan kolektor batik. Dari situlah, beliau menawarkan kepada saya untuk bergabung menjadi UKM binaan Semen Indonesia,” ujarnya.

Setelah menjadi UKM binaan PT. Semen Indonesia, Putu menjelaskan jika banyak sekali manfaat yang ia peroleh. Mulai dari bantuan dana hingga bantuan promosi yang diberikan PT. Semen Indonesia pada UKM-nya tersebut.

“Ketika baru memulai usaha, tentu yang kita perlukan yaitu biaya dan promosi. Biaya yang kita dapatkan juga besar. Promosi dari Semen Indonesia ini sangat bermanfaat sekali bagi kami. Kami diajak pameran ke Jakarta dan mendapat fasilitas yang begitu lengkap, ujarnya.

Putu juga menambahkan, jika pameran di Jakarta merupakan impiannya untuk membawa Batik Dewi Saraswati ini lebih dikenal orang Indonesia. “Dimana, pameran di Jakarta itu merupakan impian kami,” tambahnya.

Kini, usaha Putu Sulistiana ini per bulannya bisa meraih omset sebesar Rp 200 juta-Rp. 300 juta.(R SURYADI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz

Posting Komentar

0 Komentar